Batam (ANTARA) - National Marine Pollution Exercise (Mapolex) 2025 yang digelar di perairan Batam, Kepulauan Riau, sebagai bukti kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi insiden pencemaran laut.

Direktur Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayanan (KPLP), Kementerian Perhubungan Capt. Hendri ginting mengatakan wilayah Kepri dipilih sebagai lokasi latihan Marpolex ke-16 karena letaknya yang strategis dekat Selat Malaka dan Selat Singapura yang menjadi lalu lintas perdagangan internasional tersibuk di Asia.

"Tantangan di Kepri sangat tinggi sehingga dari arahan pimpinan ini merupakan strategis dan untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat bagaimana Kepri benar-benar siap menghadapi bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Hendri di Batam, Selasa.

Latihan penanggulangan tumpahan minyak di laut skala nasional ini diikuti 18 unsur termasuk ambulance yang berasal dari 17 institusi dengan jumlah personel terlibat sekitar 750 orang, terdiri atas Ditjen Perhubungan Laut, Komanda Daerah Angkatan Laut IV, Polairud Polda Kepri, Basarnas, Damkar, Bakamla, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BKKN), SKK Migas dan PT Bintang 99 Persada.

Baca juga: Wagub: Perairan Kepri rawan pencemaran laut, terutama tumpahan minyak


Kegiatan ini juga diikuti 26 kapal, di antaranya KN Trisula, KN Sarotama, KN Rantos, KN Catamaran 508, RIB Basarnas, KAL Mapur dan Patkamla Lobam.

Hendri menegaskan pentingnya kolaborasi lintas instansi untuk memastikan respons darurat yang efektif dan terkoordinasi saat hadapi insiden pencemaran laut.

"Sinergi antarlembaga merupakan kunci keberhasilan respons keadaan darurat. Ape National Marpolex 2025 di Batam ini memastikan kesiapan personel, peralatan dan efektivitas komando serta komunikasi dalam operasi penanggulangan," kata Hendri.

Apel National Marpolex 2025 dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura.

Nyanyang menekankan National Marpolex 2025 penting untuk memastikan perairan Kepri aman dan terlindungi. Terlebih setiap bulan September biasa terjadi tumpahan minyak di kawasan perairan Kepri.

"Dengan adanya kesiapan ini, seperti sudah siap payung, jangan sampai nanti terjadi tetapi tidak siap. Latihan ini membangun kekuatan bahwa perairan Kepri di Kota Batam jangan sampai ada tumpahan minyak," ujar Nyanyang.


Baca juga: Peneliti BRIN tawarkan bioremediasi mikroba atasi tumpahan minyak laut


Nyanyang menyebut sejak dua tahun terakhir insiden tumpahan minyak hitam di Kepri terbilang nihil. Pemerintah Kepri bersama Ditjen Perhubungan Laut, KPLP, KSOP Kota Batam, Forkopimda Kepri bersatu berkoordinasi dengan Singapura dan Malaysia agar meminimalisir terjadinya tumpahan minyak ke laut.

Menurut dia perairan Kepri daerah tersibuk lintasan kapal dari East Asia dan West Asia itu melalui Selat Malaka, atau Selat Philip atau Selat Singapura, biasanya bila ada tumpahan minyak dari kapal-kapal tersebut dampaknya ke wilayah Bintan, dan Batam.

"Tapi Alhamdulillah dua-tiga tahun ini tidak terjadi tumpahan minyak di Kepri," kata Nyanyang.

National Marpolex 2025 juga sebagai komitmen Indonesia menjaga wilayah perairan dari pencemaran lingkungan, yang tertuang dalam keanggotaan International Maritime Organization (IMO).

Baca juga: Tiga negara latihan penanggulangan tumpahan minyak di Makassar

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.