Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengajak para ahli gizi untuk ikut mengawasi dan memberikan edukasi makanan yang layak dikonsumsi anak-anak kepada masyarakat.

"Kami tadi mengajak agar para ahli gizi untuk ikut mengawasi makanan di mana pun. Sekarang Indonesia tinggi sekali masyarakat yang kena penyakit gula atau gula tinggi. Bahkan ada anak-anak juga yang terkena. Kita minta bareng-bareng nanti melakukan edukasi makanan-makanan yang gula tinggi," ujar Zulkifli Hasan atau akrab disapa Zulhas dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, terkadang minuman yang begitu manis, gula-gula dan sebagainya dijual di depan sekolah. Hal itu berisiko membuat anak-anak bisa kena penyakit gula.

"Mengajak ahli gizi untuk melakukan edukasi terhadap makanan-makanan yang anak-anak kita layak, bagus untuk dikonsumsi dan mana yang perlu dihindari termasuk yang tadi gulanya tinggi itu," katanya.

Zulhas mengatakan edukasi makanan dari ahli gizi saat ini penting karena makanan yang tinggi gula di Indonesia sudah mengkhawatirkan.

Menurut dia, di depan sekolah dijual permen gulanya sangat tinggi dan minuman terlalu manis. Bahkan ada anak-anak terkena penyakit gula dan Indonesia termasuk yang penyakit diabetesnya tinggi.

"Oleh karena itu, kita harus memberikan edukasi. Saya lagi mencoba nanti bagaimana agar makanan yang tinggi gula itu dicantumkan dalam labelnya itu," kata Zulhas.

Sebagai informasi, Ketua Forum Warga Kota (Fakta) Indonesia Ari Subagyo Wibowo menegaskan kebijakan label tinggi gula pada Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) penting untuk diterapkan agar dapat menekan lonjakan diabetes.

Fakta Indonesia mendukung rencana Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang akan mengkaji penerapan label peringatan "Tinggi Gula" pada MBDK.

Fakta Indonesia bersama Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) sebelumnya melakukan survei terhadap 117 responden pasien gagal ginjal. Hasilnya, mayoritas pasien mengidap Diabetes Melitus Tipe 2 yang salah satunya dipicu konsumsi gula berlebih dari MBDK.

Kemudian, berdasarkan ‎Data International Diabetes Federation (IDF) 2024 memproyeksikan jumlah penderita diabetes di Indonesia bakal menembus 20,4 juta jiwa, menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia.

Sementara konsumsi gula nasional periode 2024-2025 mencapai 7,6 juta ton, termasuk tertinggi secara global. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 juga mencatat 67,21 persen masyarakat mengonsumsi MBDK.

‎Ari menilai, kebijakan label tinggi gula penting diterapkan karena sudah menjadi standar efektif di berbagai negara seperti Meksiko, Peru, Chile, Argentina, Uruguay, Brasil, Kolombia, Kanada, dan Venezuela.

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.