Jakarta (ANTARA) - CEO dan Co-founder Corporate Innovation Asia (CIAS) Indrawan Nugroho menilai inovasi dalam dunia usaha menjadi kunci untuk memenangkan persaingan pada 2026 mendatang.

Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang makin kuat turut memicu persaingan yang kian ketat.

Meski peluang memang bertambah, namun pada saat yang sama juga menciptakan persaingan antarpelaku usaha.

"Pemerintah sudah menyiapkan infrastruktur, investor menyiapkan pembiayaan, dan para ekonom menunjukkan peta risiko, semua bergerak terorkestrasi. Pertanyaannya, sejauh mana dunia usaha siap menggunakan momentum itu?" ujar Indrawan saat menjadi pembicara dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2025 di Jakarta, Rabu.

Ia menekankan bahwa 2026 bukan lagi tahun untuk menambah aktivitas, melainkan tahun untuk meningkatkan kualitas strategi dan hasil.

Dunia usaha, kata dia, perlu bergerak lebih kreatif.

Perubahan global yang cepat membuat strategi umum tidak lagi relevan karena konsumen semakin cerdas, modal makin selektif, serta risiko yang semakin nyata.

Untuk itu, Indrawan menyampaikan empat langkah strategis yang perlu dijalankan pelaku usaha.

Pertama, dunia usaha harus memiliki karakter strategis, yakni kejelasan tentang arah fokus perusahaan.

"Kita perlu punya karakter, mau fokus di segmen yang mana, di area mana yang memberikan nilai yang paling besar. Kita perlu memahami masalah utama dari pelanggan kita. Bukan cuma sekadar ikut-ikutan tren," jelasnya.

Kemudian, langkah kedua, pelaku usaha perlu membangun inovasi yang terstruktur.

Indrawan memandang banyak perusahaan memang berinovasi, tetapi sifatnya sporadis, ad hoc, sering hanya mengikuti pesaing atau tren.

Pada 2026, pola seperti itu tak lagi memadai. Inovasi harus menjadi sistem yang memiliki prioritas jelas, proses yang rapi, tujuan bisnis yang terukur, serta pembelajaran yang berkelanjutan.

Langkah ketiga yakni soal pentingnya ketangguhan operasional.

Ia memprediksi bahwa ketidakpastian masih akan mengintai di 2026, sehingga bisnis perlu membangun rantai pasok yang fleksibel, tim yang mampu bekerja dengan data, kemampuan memanfaatkan teknologi seperti akal imitasi (AI), serta proses operasional yang efisien.

"Dalam kondisi ini, bukan perusahaan yang paling besar yang akan ada, tapi perusahaan yang paling siap menghadapi perubahan," tambahnya.

Terakhir, Indrawan menyoroti pentingnya kolaborasi ekosistem.

Dalam pandangannya, industri tidak lagi bergerak sebagai pemain individual.

Indonesia mulai bergeser menuju pendekatan ekosistem, di mana berbagai perusahaan saling terhubung dan menciptakan nilai bersama.

Pendekatan kolaboratif diyakini akan memperkuat daya saing Indonesia, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di tingkat global.

Indrawan menutup pandangannya dengan menyebut bahwa optimisme terhadap masa depan Indonesia sangat kuat, namun optimisme hanya akan terwujud menjadi hasil nyata jika pelaku usaha melengkapinya dengan strategi yang tepat dan inovasi yang kuat.

Baca juga: Pacu perekonomian RI, ekonom rekomendasikan sejumlah kebijakan di ABF

Baca juga: Di ABF 2025, Wamen Investasi perkuat komitmen berantas premanisme

Baca juga: ANTARA gelar ABF untuk pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.