Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 41 kedutaan besar (kedubes) asing mengikuti kegiatan WIC Annual Charity Bazaar ke-56 pada 19-20 November 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), yang juga diikuti oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia.

Kegiatan tersebut digelar oleh Women’s International Club (WIC) Jakarta bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dengan tema “South Kalimantan: The Soul of Borneo”.

Duta Besar Chili untuk Indonesia Mario Ignacio Artaza Loyola mengatakan bahwa pihaknya ingin memberikan dampak lebih besar dalam hal berkontribusi kepada masyarakat dengan mengikuti kegiatan tersebut.

“Ini adalah kesempatan amal untuk berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah menerima kehadiran kami, dan kami percaya bahwa semakin banyak produk yang kami jual, semakin besar pula kontribusi yang dapat kami berikan kepada masyarakat,” ujar Mario di Jakarta, Rabu.

Mario menegaskan bahwa Chili sepenuhnya menghormati apa yang boleh dan tidak boleh di masyarakat Muslim Indonesia, tetapi di saat yang sama, Chili juga menghormati bahwa terdapat komunitas internasional yang tinggal di Indonesia, saat ditanya terkait penjualan minuman anggur (wine) di stan Kedubes Chili.

Mario menilai bahwa Indonesia dibangun di atas nilai toleransi, tempat beragam budaya, agama, tradisi, dan sejarah hidup damai. Dengan menjual anggur, pihaknya ingin menegaskan bahwa Indonesia adalah negeri yang menjunjung harmoni serta keterbukaan dalam keberagaman.

Selain itu, Madam Clare Jermey, istri dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey, menyampaikan bahwa bazar amal tersebut merupakan acara luar biasa untuk diikuti karena pihaknya tahu bahwa pendapatan akan disumbangkan ke banyak badan amal di sekitar Jakarta dan melakukan banyak kebaikan.

Menurutnya, sangat menyenangkan berpartisipasi dalam bazar amal tersebut bersama semua stan kedubes asing lainnya yang membawa barang-barang dari negara masing-masing, sembari menambahkan bahwa Inggris memiliki “British bone china” sebagai produk terbaik mereka.

Salah satu pelaku usaha dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalimantan Selatan, Henny Rusilawati, yang melakukan usaha dalam kerajinan “sasirangan” juga turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Sasirangan adalah kain tradisional khas Kalimantan Selatan, khususnya suku Banjar, yang dibuat dengan menggunakan teknik pewarnaan ikat celup. Kata “sasirangan” itu berasal dari kata dasar “sirang” yang berarti ikat atau jelujur.

Henny menjelaskan bahwa setiap motif sasirangan memiliki makna, seperti Bambu Sambung yang melambangkan keberuntungan, kesejahteraan, dan kedamaian. Ia menambahkan bahwa sasirangan hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari versi biasa, bordir, hingga kombinasi keduanya.

Selain itu, Ketua Harian Dekranasda Kalimantan Selatan, Rohim, mengatakan bahwa sasirangan sudah memiliki status Indikasi Geografis (IG) yang terkait pelindungan Kekayaan Intelektual.

“Kalau ada yang menjiplak di daerah lain, atau provinsi lain, hati-hati,” tambah Rohim.

Baca juga: WIC Jakarta buka bazar amal 2025 untuk perkuat solidaritas sosial

Baca juga: Selvi: Bazar amal WIC sangat berkontribusi pada kesejahteraan warga

Madam Clare Jermey, istri Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey (tengah) berdiri di belakang meja yang memajang "British bone china" dalam "WIC Annual Charity Bazaar" ke-56 di Jakarta, Rabu (19/11/2025). (ANTARA/Cindy Frishanti)

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.