Pembuluh darah tersumbat penyebab tertinggi stroke

Pembuluh darah tersumbat penyebab tertinggi stroke

Illustration of ischemic stroke. (strokecenter.org)

Sekitar 1 persen stroke disebabkan pendarahan dalam jaringan otak, sedangkan 85 persen stroke diakibatkan tersumbatnya pembuluh darah di otak,"
Surabaya (ANTARA News) - Dokter Spesialis Saraf di Siloam Hospitals Surabaya, dr Yanna Saelan SpS mengatakan bahwa tersumbatnya pembuluh darah di otak menjadi penyebab tertinggi penyakit stroke, yang juga mempunyai risiko kematian dan kecacatan.

"Sekitar 1 persen stroke disebabkan pendarahan dalam jaringan otak, sedangkan 85 persen stroke diakibatkan tersumbatnya pembuluh darah di otak, tergantung dari besarnya pembuluh darah di otak yang tersumbat tersebut, semakin besar pembuluh darah yang tersumbat, maka semakin luas dempak kerusakan dan makin besar komplikasi yang terjadi," kata dr Yanna di Surabaya, Senin.

Pada tahun 2013, lanjutnya, Rumah Sakit (RS) Siloam telah menangani pasien stroke sebanyak 206 orang, dan sebanyak 194 terselamatkan, namun hanya 12 pasien yang meninggal dunia. Pada tahun 2014, pasien stroke sebanyak 197 pasien, dari jumlah tersebut sebanyak 9 orang meninggal dunia, dan 188 pasien terselamatkan.

"Kesadaran masyarakat dalam menangani gejala stroke dan segera membawa ke rumah sakit dinilai masih kurang, padahal hal itu akan banyak menolong penderita mengurangi kecacatan, mengurangi masa perawatan di rumah sakit yang berarti menghemat biaya dan juga mengurangi resiko kematian," tuturnya.

Dari data Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) tahun 2009 disebutkan, penyebab utama kematian di rumah sakit akibat stroke yakni sebesar 15 persen, yang berarti 1 dari 7 kematian disebabkan oleh stroke, dan tingkat kecacatan bisa mencapai 65 persen.

Dan dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2013, juga menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi stroke di Indonesia dari 8,3 per mil (tahun 2007) menjadi 12,1 per mil (tahun 2013).

"Meningkatnya jumlah pasien stroke tidak diimbangi dengan adanya stroke center di pusat-pusat layanan kesehatan, utamanya di rumah sakit, karena tidak banyak RS yang memiliki stroke center, bahkan dapat dihitung dengan jari. Berbeda dengan RS di luar negeri, seperti di USA, di sana telah berkembang lebih dari 1.000 stroke center," ujarnya.

Menurut dia, dengan kemajuan ilmu pengetahuan kedokteran, cacat pembuluh darah dapat dideteksi lebih awal, sehingga dapat ditangani sesegera mungkin. Dengan begitu, dapat mengurangi kemungkinan terjadinya pendarahan maupun penyumbatan pembuluh darah di otak. Pada akhirnya, resiko orang terkena stroke dapat dikurangi.

"Tetap saja dokter tidak dapat berbuat banyak untuk menolong, jika penderita stroke yang datang terlambat atau sudah mengalami komplikasi, karena jaringan otak yang tidak mendapat aliran darah yang memadai akan segera mati, dan tidak akan tumbuh sel otak baru sebagai gantinya, maka untuk itu bagi penderita stroke akan mengalami hilang waktu atau hilang jaringan otak," tandasnya.

Dari tahun 2010, RS Siloam telah menangani kasus stroke sebanyak 232 pasien, dari jumlah itu sebanyak 18 pasien meninggal dunia, dan 214 pasien terselamatkan. Kemudian tahun 2011, rumah sakit ini sudah menangani kasus stroke sebanyak 276 pasien, dari angka itu sebanyak 19 pasien meninggal, dan 257 pasien terselamatkan. Sedangkan pada tahun 2012 rumah sakit ini telah menangani kasus stroke sebanyak 279 pasien, dari jumlah tersebut sebanyak 21 pasien meninggal, dan 258 terselamatkan.

Pewarta: Indra Setiawan/Laily Widya Ari Shandi
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Anjuran bagi pasien penyakit tidak menular di masa pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar