Abu Dhabi (ANTARA) - Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Abdullah bin Zayed Al Nahyan berdiskusi melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio tentang krisis di Sudan dan hubungan bilateral, menurut laporan kantor berita WAM.

Kedua pejabat tersebut meninjau perkembangan terakhir perang saudara di Sudan, seraya menekankan urgensi gencatan senjata segera dan tanpa syarat, serta perlunya memastikan akses kemanusiaan tanpa hambatan bagi warga sipil yang terdampak.

Departemen Luar Negeri AS dalam siaran persnya mengatakan kedua belah pihak "melanjutkan diskusi mengenai upaya kolektif kami untuk mencapai gencatan senjata kemanusiaan di Sudan".

Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan telah memulai upaya untuk mengakhiri perang di Sudan, seraya menyatakan inisiatif tersebut diluncurkan atas permintaan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dalam pertemuan mereka di Gedung Putih.

Hubungan antara UEA dan Sudan diliputi ketegangan sejak pecahnya perang saudara pada April 2023, dengan Sudan menuduh UEA mendukung milisi Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF), tuduhan yang berulang kali dibantah oleh UEA.

Konflik brutal antara tentara Sudan dan RSF telah merenggut puluhan ribu jiwa dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka, menyebabkan apa yang disebut PBB sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk abad ini.

Dalam pembicaraan via telepon tersebut, kedua diplomat tertinggi juga membahas hubungan bilateral dan peluang untuk memperdalam kerja sama di berbagai sektor. Abdullah menyampaikan rasa terima kasihnya atas keputusan Gedung Putih baru-baru ini yang mengizinkan ekspor semikonduktor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) canggih kepada G42 Group yang berbasis di UEA, dan menyebutnya sebagai bukti atas dalamnya dan terus tumbuhnya kemitraan strategis antara kedua negara.

Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.