Megawati: Yudi kembalikan mutiara pemikiran pendiri bangsa

Megawati: Yudi kembalikan mutiara pemikiran pendiri bangsa

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Yudi merupakan salah satu cendekiawan yang berani menuliskan tentang pemikiran Bung Karno dan mengkritisinya,
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menilai buku karangan Yudi Latief Revolusi Pancasila mengembalikan mutiara pemikiran pendiri bangsa.

"Yudi merupakan salah satu cendekiawan yang berani menuliskan tentang pemikiran Bung Karno dan mengkritisinya," kata Megawati ketika menjadi pembicara utama peluncuran Buku berjudul Revolusi Pancasila karya Yudi Latief di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan Yudi Latif inilah yang dapat menangkap esensi pikiran Bung Karno sebagai bapak bangsa. "Saya mengetahui Bapak saya, ini bukan membesarkan dan juga bukan menyombongkan," katanya.

Megawati juga menilai buku Revolusi Pancasila ini juga bisa memperkuat revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

"Bung Karno selalu menekankan program National Character Building," katanya.

Dikatakannya, Indonesia ini besar tetapi direndahkan oleh bangsanya sendiri karena ada rasa rendah diri. Untuk itu perlu revolusi mental untuk membangun masyarakat yang dicita-citakan dan kita perlu merombak cara berfikir.

Sementara mengenai Sumpah Pemuda, Megawati menilai tidak hanya memberi visi kebangsaan, tapi juga sebagai fondasi terpenting dari seluruh gagasan Indonesia Merdeka, yang diawali dengan komitmen satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan Indonesia.

Dikatakannya Bung Karno menggali Pancasila dari buminya Indonesia dan menjadi falsafah hidup berbangsa dan bernegara."Sumpah Pemuda dan Pancasila, merupakan satu tarikan nafas perjuangan kemerdekaan Indonesia," ujar Presiden RI kelima tersebut.

Sementara itu Cendikiawan Muslim Komarudin Hidayat mengatakan pelaksanaan Pancasila perlu komitmen berbagai elemen dan juga para elit untuk mengamalkannya.

"Indonesia itu dikenal dengan budaya yang Pancasilais, ini yang harus tetap kita jaga," katanya.

Sedangkan Direktur Eksekutif Pusat Studi Pancasila Universitas Pancasila Yudi Latif mengatakan setelah 87 tahun Sumpah Pemuda semangatnya saaat ini mengalami kelunturan.

Padahal katanya usia muda (16-30 tahun) mengalami penggelembungan dalam struktur demografi Indonesia tetapi mental muda mengalami penurunan.

Dikatakannya peringatan Sumpah Pemuda seharusnya merupakan semangat profresif mental muda, dengan kobaran komitmen, kebesaran dan keluasaan jiwa, yang secara sengaja bersungguh-sungguh memperjuangkan visi demi membentuk dan membangun bangsa.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Kilas NusAntara Edisi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar