Jakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup DKI membatasi pengangkutan sampah 1.000 ton per hari ke "Refuse Derived Fuel" (RDF) Plant Rorotan imbas adanya sejumlah dampak yang sempat menimbulkan penolakan dari warga sekitar.
"Keputusannya memang kemarin di rapat pimpinan (rapim) itu Pak Gubernur untuk dijalankan besok itu di 1.000 ton per hari dulu," kata Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi di TPS3R Lenteng Agung Jakarta, Kamis.
Dudi menegaskan, pembatasan itu terkait jumlah sampah pada truk pengangkut, bukan kapasitas pengelolaan RDF.
Karena itu, pihaknya mencoba memperbaiki sistem angkut transportasi yang dilakukan secara bertahap.
"Kan ada permasalahan di sistem transportasi kita. Jadi banyak angkutan kita yang memang tidak sempurna," katanya.
Baca juga: DKI optimalkan TPS3R yang mangkrak
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH DKI Jakarta, Fahmi Hermawan menambahkan, transportasi itu sempat ditentang lantaran baunya melewati pemukiman warga.
"Mereka itu istilahnya yang tadinya enggak ada kebauan seperti itu, tiba-tiba lewat truk. Kita enggak sempurna karena banyak faktor," katanya.
Karena itu, upaya saat ini yang dilakukan, yakni yang awalnya sampah diangkut dengan kapasitas 2.500 ton dikurangi menjadi 1.000 ton per harinya sebagai pengadaan baru.
Baca juga: DKI susun Raperda Pengelolaan Mutu Udara untuk kendalikan pencemaran
Pengurangan pengangkutan kapasitas sampah akan dilaporkan kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat (28/11).
DLH DKI Jakarta telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jakarta mengatasi keluhan masyarakat yang terdampak uji coba operasional RDF Plant Rorotan.
Sebelumnya, 20 anak yang berdomisili RT 18 Cakung Timur mengalami sakit yang diduga terdampak uji coba operasional RDF Plant Rorotan yang menghasilkan pencemaran udara di sekitar kawasan tersebut.
Puskesmas Cakung melayani 11 pasien yang terdampak RDF Rorotan. Keluhan yang dialami pasien meliputi batuk pilek tanpa demam dan demam. Beberapa orang dari 20 anak yang terdampak diketahui sudah sembuh.
Pewarta: Luthfia Miranda Putri
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.