Jakarta (ANTARA) - Ekonom Partai Golkar Abdul Rahman Farisi memandang kebijakan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan skema satu desa, satu megawatt (MW) mempunyai manfaat ganda.
“Pertama, pemerataan energi listrik di seluruh Indonesia. Kedua, mendorong terciptanya kutub-kutub pertumbuhan ekonomi baru di desa,” ujar Abdul dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan pemerataan energi listrik akan berdampak terhadap kualitas pelayanan publik, serta meningkatkan taraf hidup hingga memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Menurut dia, hal tersebut dapat terjadi karena layanan listrik yang hanya dinikmati di perkotaan, kemudian akan menjangkau masyarakat desa.
Sementara itu, dia menjelaskan tersedianya listrik, terutama di wilayah kepulauan dan daerah terisolir, akan mempercepat kegiatan ekonomi melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan produksi, percepatan pemasaran, hingga efisiensi waktu produksi.
"Desa-desa yang sebelumnya stagnan akan berubah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di tingkat kabupaten maupun provinsi," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia melaporkan percepatan program energi baru terbarukan, yakni pembangunan PLTS tiap desa hingga transisi energi kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, 26 November 2025.
Pembangunan PLTS dengan skema satu desa, satu megawatt tersebut merupakan program yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo untuk mendukung kebutuhan listrik Koperasi Desa Merah Putih.
Baca juga: Bahlil lapor Prabowo soal PLTS tiap desa hingga transisi energi
Baca juga: Pemerintah optimalkan PLTS guna wujudkan target swasembada energi
Baca juga: ESDM bidik nelayan pakai PLTS jadi sumber energi penyimpanan ikan
Pewarta: Rio Feisal
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.