Apabila kita cermati lintasan sejarah, mulai Romawi, hingga Asia Tenggara modern, kekuasaan yang menjauhi rakyat selalu jatuh. Sebaliknya, pemimpin yang membela rakyat dikenang sebagai legenda, bukan karena mereka sempurna, tetapi karena keberpihakan
Jakarta (ANTARA) - Dalam etika kepemimpinan klasik, tindakan yang berpihak kepada mereka yang paling rentan selalu berada di sisi moral yang benar. Ia menghindarkan pemimpin dari kesewenang-wenangan dan menjaga integritas dirinya di mata publik.
Negara, jelas bukan panggung untuk ambisi pribadi. Dalam kajian "modern state", tindakan membela rakyat itu dapat memastikan bahwa kebijakan, kekuasaan, dan keputusan berpihak pada kebutuhan nyata manusia, bukan pada kepentingan sempit kelompok kecil.
Dalam teori politik klasik maupun modern, kekuasaan negara hanya sah jika berpijak pada kehendak rakyat. Membela rakyat berarti mengembalikan kekuasaan kepada sumbernya.
Pemimpin yang berpihak kepada rakyat memperkuat fondasi moral dan konstitusional negara. Pada literatur sejarah ditulis banyak tokoh dunia yang harum namanya karena mereka membela rakyatnya.
Tokoh dunia yang dikenal sebagai pembela rakyatnya di antaranya adalah Mahatma Gandhi, yang memimpin gerakan kemerdekaan India melawan Inggris melalui perlawanan tanpa kekerasan; Nelson Mandela, yang berjuang melawan apartheid di Afrika Selatan dan dipenjara selama 27 tahun. Ada juga Martin Luther King Jr, yang memimpin gerakan hak-hak sipil untuk warga kulit hitam di Amerika Serikat.
Satu orang Mahatma Gandhi, berkat cinta dan keberaniannya, berhasil mengakhiri pemerintahan kolonial Inggris di India dan menginspirasi gerakan-gerakan perlawanan di seluruh dunia.
Sementara itu, Nelson Mandela berhasil menjadi simbol perjuangan anti-apartheid, yang menghabiskan 27 tahun di penjara karena aktivismenya, sebelum menjadi presiden pertama Afrika Selatan yang dipilih secara demokratis. Di sisi belahan dunia lainnya, Martin Luther King Jr, seorang pendeta dan aktivis hak-hak sipil yang memimpin pergerakan menuntut kesetaraan ras dan hak-hak sipil bagi warga Afrika-Amerika, melalui aksi, tanpa kekerasan.
Dalam sejarah Persia kuno, kita juga dapat membaca jejak-jejak indah dari Koresh Agung. Ia adalah Kaisar Persia Kuno yang sangat terkenal. Pasalnya, Koresh berhasil membebaskan budak-budak di Babilonia, mendeklarasikan kebebasan beragama, dan menegakkan kesetaraan ras, yang menjadikan Dekrit Koresh (Cyrus Cylinder) dianggap sebagai piagam hak asasi manusia pertama di dunia.
Sejarah dunia juga semakin eksotik, ketika seorang Malcolm X hadir sebagai pemimpin hak-hak sipil di Amerika. Malcolm adalah aktivis yang vokal pada masanya, memperjuangkan hak-hak masyarakat kulit hitam dengan cara yang berbeda.
Beberapa tokoh tersebut hanyalah contoh, betapa para pejuang rakyat itu tidak pernah salah. Mereka menjadikan dirinya sebagai titik tumpu membangun peradaban bangsanya masing-masing. Sebab peradaban harus dibangun tidak saja dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah rakyatnya. Lebih jauh dari itu, peradaban membutuhkan tokoh pemimpin yang sepenuh jiwa berani membela rakyatnya.
Baca juga: Jokowi puji Prabowo, pemimpin dengan dukungan kuat dari rakyat dan DPR
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.