Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup melemah seiring dengan aksi “profit taking” pelaku pasar di pasar saham Indonesia.
IHSG ditutup melemah 37,15 poin atau 0,43 persen ke posisi 8.508,71 Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,27 poin atau 0,74 persen ke posisi 845,76.
“Koreksi IHSG antara lain dipicu oleh profit taking setelah sempat mencapai rekor tertinggi baru pada pekan ini,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati data-data ekonomi domestik yang akan dirilis pada pekan depan, yaitu indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor manufaktur, neraca perdagangan, serta data inflasi pada Senin (01/12). Selain itu, juga data cadangan devisa pada Jumat (5/12).
Baca juga: Danantara masih negosiasi pembelian saham Lotte di Cilegon
Neraca perdagangan Oktober 2025 diperkirakan surplus sebesar 3,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari 4,34 miliar dolar AS pada September 2025. Sedangkan inflasi diperkirakan mencapai 0,3 persen month to month (mtm) dan 2,8 persen year on year (yoy) pada November 2025.
Dari kawasan Asia, pelaku pasar mencermati perkembangan data ekonomi terbaru, diantaranya inflasi Jepang turun menjadi 2,7 persen pada Oktober 2025, melambat dari 2,8 persen pada September 2025, sementara inflasi inti menjadi 2,8 persen dari 2,7 persen pada September 2025.
Data inflasi tersebut, lebih tinggi dari target bank sentral Jepang yang sebesar 2 persen, sehingga memperkuat potensi akan kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.