Beirut (ANTARA) - Jet-jet tempur Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Lebanon selatan pada Kamis (27/11), melanjutkan serangan rutin mereka di negara itu tepat satu tahun setelah gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat (AS) seharusnya mengakhiri konflik.

Serangan tersebut menghantam area Al-Mahmoudieh dan Al-Jarmaq dekat Jezzine, menurut kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA). Seorang pejabat intelijen Lebanon mengatakan pesawat Israel menembakkan 18 rudal udara ke darat ke bekas posisi Hizbullah sehingga menyebabkan kebakaran hutan dan getaran yang terasa di wilayah Nabatieh yang lebih luas.

Sebelumnya pada hari yang sama, pasukan Israel juga menembakkan senapan mesin ke arah sejumlah petani di dekat Al-Wazzani, meskipun tidak ada laporan korban cedera.

Asap membubung dari berbagai bangunan setelah serangan udara Israel di Deir Kifa, Lebanon selatan pada 19 November 2025. (ANTARA/Xinhua/Ali Hashiho)

Kekerasan ini menyoroti kerentanan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 27 November 2024 itu. Meskipun perjanjian tersebut mengakhiri 14 bulan pertempuran yang dipicu oleh perang di Gaza, warga dan pejabat mengatakan bahwa perdamaian tersebut hanya bersifat simbolik.

Faiza Nasr, seorang warga di kota perbatasan Khiam yang rumahnya hancur dalam pertempuran tahun lalu, mengatakan rekonstruksi berjalan lambat karena tembakan Israel sering menargetkan peralatan penggalian yang dibutuhkan untuk membersihkan puing-puing.

"Gencatan senjata hanya ada di atas kertas; tanah menceritakan kisah yang berbeda," kata Nasr.

Seperti banyak orang lainnya, keluarganya menyimpan tas berisi barang-barang yang siap dibawa saat harus segera melarikan diri.

"Tidak ada yang terasa aman di sini".

Meskipun kesepakatan mengharuskan penarikan penuh pada Februari, militer Israel tetap mempertahankan lima posisi pertahanan di sepanjang perbatasan. Israel mengatakan operasi itu diperlukan untuk menetralkan ancaman yang masih ada, tetapi kehadiran terus-menerus ini mencegah tentara Lebanon untuk sepenuhnya ditempatkan di sepanjang Garis Biru yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Jumlah korban manusia dari "ketenangan yang mengkhawatirkan" ini terus meningkat.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa 339 orang tewas dan 978 lainnya luka-luka sejak gencatan senjata dimulai. UNICEF mengatakan sedikitnya 13 anak termasuk di antara korban tewas.

Menurut sumber keamanan Lebanon, Israel telah melakukan lebih dari 5.000 pelanggaran melalui darat, udara, dan laut dalam setahun terakhir.

Foto menunjukkan rongsokan mobil yang rusak setelah serangan udara Israel di Zawtar timur, Distrik Nabatieh, Lebanon, pada 22 November 2025. (ANTARA/Xinhua/Ali Hashisho)

Pada Minggu (23/11), Israel melancarkan serangan udara di pinggiran selatan Beirut, sebuah langkah yang terbilang langka sejak gencatan senjata karena sebagian besar serangan Israel berfokus di selatan. Serangan tersebut menewaskan lima orang dan melukai 28 lainnya, menurut otoritas Lebanon

Di antara korban tewas adalah Haytham Ali Al-Tabtabi, komandan senior Hizbullah yang digambarkan Israel sebagai kepala staf militer kelompok tersebut.

Analis politik memperingatkan bahwa tanpa jaminan internasional yang nyata, bentrokan harian dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas yang melibatkan Beirut dan wilayah timur.

Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.