Kalau saja bisa kita manfaatkan, kita berikan peluang bagi industri-industri di dalam negeri, industri-industri lokal, khususnya industri kecil menengah, subtitusi impor akan berhasil,

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan terus memperkuat peran industri kecil menengah (IKM) komponen otomotif dalam rantai pasok, supaya bisa mengurangi (subtitusi) impor komponen otomotif nasional.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Link and Match IKM Alat Angkut dengan Industri Besar di Jakarta, Selasa menjelaskan, pada periode Januari-September 2025, nilai total impor otomotif mencapai 8,26 miliar dolar AS, dengan impor komponen otomotif (HS 8708) naik dari 2,29 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 2,42 miliar dolar AS pada 2025, atau meningkat lebih dari 20 persen.

"Kalau saja bisa kita manfaatkan, kita berikan peluang bagi industri-industri di dalam negeri, industri-industri lokal, khususnya industri kecil menengah, subtitusi impor akan berhasil," kata dia.

Menurut dia, seluruh tantangan ini bisa dijawab dengan memperkuat kemitraan antara IKM dan industri otomotif besar nasional.

Baca juga: Menperin tetap upayakan insentif untuk industri otomotif

Penurunan impor komponen hanya akan tercapai apabila IKM mampu mengambil peran yang lebih besar sebagai pemasok utama dalam rantai pasok domestik, melalui peningkatan kualitas, kapasitas, dan integrasi yang lebih erat dengan industri besar.

Berdasarkan Data SIINas tahun 2025, Indonesia memiliki 1.412 unit usaha IKM komponen otomotif yang tersebar di berbagai sentra industri, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI.Yogyakarta.

Sentra-sentra tersebut memproduksi beragam komponen penting seperti bodi dan sasis, knalpot, interior dan aksesori, komponen karet dan plastik, komponen modifikasi, hingga header radiator.

Keberagaman produk ini menunjukkan bahwa IKM komponen otomotif telah memiliki landasan kemampuan produksi yang cukup kuat untuk mendukung industri otomotif nasional.

Baca juga: Kemenperin sebut insentif perkuat ekosistem otomotif hulu-hilir

Disampaikan dia, upaya memperkuat IKM tidak dapat dilakukan secara parsial. Pihaknya membangun kolaborasi pembinaan yang komprehensif dengan Pemerintah Daerah, Perusahaan Agen Pemegang Merek (APM), Perusahaan Otomotif Tier-1, asosiasi, penyedia bahan baku, lembaga pembiayaan, tenaga ahli, institusi pendidikan, serta mitra teknologi.

Kata dia, kolaborasi multipihak ini memperkuat akses pasar, bahan baku, kualitas SDM, manajemen produksi, serta kemampuan teknologi para pelaku IKM.

Kolaborasi multipihak ini merupakan fondasi penting agar IKM benar-benar siap memenuhi standar industri otomotif nasional dan global.

Kementerian Perindustrian juga menginisiasi Program Link and Match sebagai mekanisme untuk menjembatani IKM dengan kebutuhan nyata industri besar.

Baca juga: Wuhu: Pusat manufaktur untuk otomotif dan teknologi rumah cerdas

Program ini diawali dengan koordinasi bersama APM untuk meninjau kesesuaian IKM terpilih dengan kebutuhan rantai pasok, dilanjutkan pemetaan potensi tier-1 sebagai pembina.

Tier-1 kemudian mengidentifikasi komponen yang bisa diproduksi IKM melalui studi kelayakan teknis dan biaya.

Setelah itu, Kemenperin menyelenggarakan Forum Link and Match yang bermuara pada penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara IKM komponen alat angkut dengan industri besar di sektor alat angkut termasuk otomotif.

Adapun pada hari ini, telah ditandatangani 36 MoU antara 33 IKM komponen otomotif dan 24 industri besar.

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.