Lebih lanjut, Bupati mengatakan Presiden Prabowo Subianto ingin para penarik becak di seluruh Indonesia yang jumlahnya sekitar 80 ribu orang, menerima becak listrik secara bertahap, dengan satu pesan penting, “Jangan dijual. Kalau ketahuan dijual, becaknya akan ditarik kembali,” katanya, menirukan pesan presiden.

Ia mengatakan berbagai bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas dan perhatian bagi masyarakat kecil. Ia mengharapkan program ini membawa dampak nyata pada percepatan penurunan kemiskinan di Banyumas.

Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) Letjen TNI (Purn) Teguh Arief Indratmoko mengatakan program itu bukan prioritas khusus Banyumas, melainkan program nasional yang sasarannya seluruh Indonesia.

“Bukan karena Pak Prabowo orang Banyumas. Tidak pernah membedakan suku, asal, dari mana. Semua sama,” katanya.

Ia mengatakan Yayasan GSN yang didirikan Presiden Prabowo Subianto pada 24 Agustus 2024 memiliki tiga fokus besar, yakni pengentasan kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan.

Program becak listrik termasuk dalam upaya menekan kemiskinan melalui peningkatan produktivitas pengemudi becak.

Ide becak listrik muncul ketika Presiden Prabowo melihat seorang penarik becak berusia sekitar 70 tahun yang masih bekerja berat di jalanan.

Prabowo berinisiatif membuat becak listrik yang ringan dan meningkatkan pendapatan. Yang dulunya dua-tiga jam sudah lelah, sekarang bisa delapan hingga 10 jam.

Secara nasional, GSN menargetkan sebanyak 10 ribu unit becak listrik tersalurkan pada tahun 2025 dan hingga saat ini sudah terealisasi sekitar 3.000 unit. Sementara pada tahun 2026 ditargetkan sebanyak 30 ribu unit dan seterusnya hingga mencapai target 80 ribu unit di seluruh Indonesia

GSN juga meminta pemerintah daerah menyediakan colokan listrik di titik mangkal becak, agar para pengemudi bisa mengisi daya sambil menunggu penumpang.

Teguh mengingatkan becak listrik tersebut tidak boleh diperjualbelikan. Jika disalahgunakan, sanksinya berupa penarikan kembali becak tersebut untuk diberikan kepada pebecak lain.

Jika becak rusak, para pengemudi dapat menghubungi yayasan atau bengkel rekanan, dan perbaikan akan difasilitasi.

Jika pengemudi becak sudah terlalu tua, becak boleh dialihkan kepada anaknya yang juga bekerja sebagai penarik becak.

Harapan baru

Di lapangan, becak listrik bukan sekadar modernisasi transportasi tradisional. Ia menjadi alat pemberdayaan sosial yang nyata, yakni memberi tenaga baru bagi yang sudah habis tenaganya, memberi peluang bagi mereka yang hidup pas-pasan, serta memberi ruang bagi para penarik becak untuk mempertahankan martabat kerja mereka.

Mungid yang renta, Sugeng yang hidup bersama cucu-cucunya, dan puluhan pengemudi becak lain, kini memulai hari dengan langkah berbeda. Bukan lagi sekadar menunggu penumpang sambil mengusap keringat yang menetes karena lelah mengayuh, tetapi menunggu dengan keyakinan bahwa kini hidup mereka sedikit lebih ringan.

Para penarik becak itu pulang membawa becak baru yang bukan hanya alat transportasi, tetapi simbol keberpihakan negara kepada rakyat kecil. Dan di antara riuh tepuk tangan, senyum, serta doa-doa lirih, harapan baru lahir di Banyumas.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.