Jakarta (ANTARA) - Institute for Essential Services Reform (IESR) menekankan pentingnya percepatan penerapan standar semen rendah karbon sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi sektor industri di Indonesia guna menjaga daya saing ekspor.

"Standar ini perlu segera hadir agar ada level of playing field (kesempatan berimbang). Supaya Industri yang sudah lebih maju dalam teknologi hijau tidak tertinggal dalam kompetisi," kata CEO IESR Fabby Tumiwa dalam acara "ESG Symposium 2025" di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, transformasi industri hijau membutuhkan dukungan kebijakan yang jelas, termasuk standar produk rendah karbon dan insentif pengurangan emisi.

Fabby menyampaikan sejumlah sektor seperti semen, besi-baja, petrokimia, dan kaca masih menghadapi tantangan pendanaan dan adopsi teknologi yang memerlukan investasi besar agar emisi dapat turun sesuai target peta jalan dekarbonisasi pada 2050.

Ia menjelaskan beberapa industri seperti semen telah menyiapkan teknologi yang lebih bersih dan siap memperluas produksi, namun belum memiliki pasar yang kuat di dalam negeri akibat ketiadaan standar yang mewajibkan penggunaan material rendah karbon dalam proyek konstruksi.

"Kami harap pemerintah menciptakan demand melalui proyek APBN agar produk rendah karbon diterima lebih luas," ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut, ia menilai standardisasi dan kebijakan fiskal dibutuhkan untuk mempercepat transisi hijau, serta memastikan industri tidak menghadapi risiko dagang seperti pajak karbon lintas batas di kawasan ekspor.

Sementara itu, Sekretaris Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Muhammad Taufik menjelaskan dekarbonisasi menjadi keharusan bagi industri nasional, karena tuntutan pasar global dan komitmen pemerintah mencapai emisi nol bersih pada 2060.

"Industri harus melakukan efisiensi energi dan bahan baku, serta menerapkan proses produksi yang lebih bersih untuk mengurangi emisi dan limbah," ucap Taufik.

Ia menyebut sekitar 30-40 persen industri saat ini telah menyiapkan peta jalan dekarbonisasi, dan pemerintah menargetkan seluruh sektor mengikuti transisi hijau secara bertahap hingga 2050.

Acara "ESG Symposium 2025" mengangkat tema "Decarbonizing for Our Sustainable Tomorrow" dengan tujuan memperkuat kerja sama lintas sektor untuk mendorong transformasi industri rendah karbon yang inklusif di Indonesia.

Forum yang digelar oleh Siam Cement Group (SCG) tersebut menghadirkan pemangku kepentingan dari pemerintah, lembaga, pelaku industri, dan akademisi untuk memperkuat kolaborasi transisi energi nasional.

Baca juga: Industri Semen Global Melaporkan Penurunan Intensitas CO2 Sebesar 25% dan Menyerukan Tindakan Pemerintah yang Mendesak untuk Mempercepat Perwujudan Misi Emisi Nol Bersih

Baca juga: Indonesia berpeluang jadi produsen semen hijau di Asia Tenggara

Baca juga: Komisi VII DPR minta pemerintah hadir atasi masalah industri semen

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.