Bandung, Jawa Barat (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan China Oilfield Services Limited (COSL) melaksanakan survei seismik tiga dimensi (3D) di Teluk Tomini, Provinsi Gorontalo, sebagai upaya mendukung eksplorasi migas nasional.

Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi Edy Slameto mengatakan survei tersebut merupakan bagian dari program eksplorasi masif pemerintah guna menarik minat investasi dan membuka peluang penemuan sumber daya minyak dan gas (migas) baru, khususnya di kawasan timur Indonesia.

"Kapal Hai Yang Shi You 760 datang ke Indonesia untuk melakukan survei seismik 3D. Hari ini kami memastikan kapal dalam kondisi siap beroperasi, termasuk melakukan inspeksi dan kick off meeting persiapan," kata Edy dalam keterangan yang diterima di Bandung, Jabar, Selasa.

Edy menjelaskan bahwa target survei berada di Cekungan Gorontalo, Teluk Tomini, ini merupakan salah satu cekungan sedimen prospektif.

Melalui survei ini, kata dia, pemerintah ingin memperoleh data bawah permukaan yang lebih akurat dan beresolusi tinggi agar dapat meningkatkan ketertarikan investor terhadap wilayah kerja migas di kawasan tersebut.

"Sebagaimana program Presiden Prabowo mengenai ketahanan energi, eksplorasi masif pada cekungan-cekungan sedimen sangat penting," katanya.

Menurutnya, dengan semakin banyak data yang disediakan pemerintah, minat investor diharapkan meningkat sehingga peluang penemuan lapangan migas baru semakin besar.

Ia menyampaikan bahwa saat ini Indonesia baru memproduksi migas dari 20 cekungan dari total 128 cekungan sedimen. Sementara itu, terdapat 108 cekungan yang perlu dieksplorasi.

"Tidak semuanya cekungan mengandung migas, tetapi jika 20 hingga 30 persen saja memiliki potensi, itu sudah sangat besar untuk memenuhi kebutuhan energi nasional dan mendukung target lifting satu juta barel per hari," ujarnya.

Terkait pemilihan titik survei di Teluk Tomini, ia menjelaskan bahwa Cekungan Gorontalo sebelumnya sudah pernah disurvei menggunakan seismik 2D dengan kerapatan data yang cukup baik.

"Jadi kami tetap membutuhkan data 3D melalui survei ini dengan resolusi lebih baik untuk meningkatkan keyakinan pelaku usaha dalam menentukan titik bor," katanya.

Edy mengatakan survei menggunakan kapal COSL tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 40 hari, kemudian dilanjutkan pemrosesan data selama satu hingga dua bulan.

Setelah seluruh tahapan selesai, data akan dievaluasi dan diserahkan kepada Kementerian ESDM untuk ditawarkan kepada para investor.

"Hasilnya nanti masih berupa estimasi spekulatif, namun itu sudah cukup untuk menarik minat investor dibandingkan area yang belum punya gambaran apa pun," kata dia.

Baca juga: ESDM tegaskan tak ada cara tingkatkan lifting migas selain eksplorasi

Baca juga: Probabilitas ditemukan migas dari kegiatan eksplorasi capai 30 persen

Baca juga: Badan Geologi paparkan kejadian tanah bergerak kawasan Ngarai Sianok

Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.