Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyatakan akan memperluas cakupan skrining kanker serviks menggunakan prosedur HPV DNA dengan metode pengambilan sampling mandiri (self-sampling) pada 2026 dan akan mengintegrasikannya dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan di Jakarta, Kamis, metode self-sampling perlu diperluas sebagai bentuk dukungan kepada para perempuan dan ibu di Indonesia, yang menjadi bagian vital dalam keluarganya.
Adapun metode HPV DNA adalah prosedur deteksi infeksi dengan cara mengambil sampel dari leher rahim atau serviks. Prosedur ini bisa dilakukan secara mandiri (self-sampling).
Nadia menjelaskan, kanker leher rahim merupakan kanker kedua yang paling sering diderita oleh perempuan di Indonesia, dengan kurang lebih 56 kematian setiap harinya.
Baca juga: BKKBN Maluku buka layanan deteksi kanker serviks bagi masyarakat
"Dari sekitar 408.661 kasus baru kanker di Indonesia pada tahun 2022, 9 persennya adalah kanker leher rahim," katanya.
Dia menambahkan, kanker serviks di Indonesia dikaitkan dengan angka kematian yang sangat tinggi, terutama disebabkan oleh tingkat skrining yang tidak memadai. 70 persen kasus biasanya terdeteksi pada stadium lanjut.
Self-sampling menjadi sebuah pilihan untuk skrining, katanya, karena menawarkan kenyamanan bagi perempuan saat pemeriksaan. Dia menyebutkan, dengan cara ini, perempuan tidak perlu merasa malu seperti saat skrining yang membutuhkan pasien membuka celana di depan petugas kesehatan.
Nadia menggarisbawahi sejumlah tantangan dalam perluasan skrining kanker serviks, seperti rasa malu, rendahnya kesadaran akan kesehatan, stigma atau tabu yang beredar di masyarakat, rasa takut untuk mengetahui hasil pemeriksaan, dan tidak adanya dukungan dari keluarga.
Menurut dia, hal itu tercermin dari data terbaru cakupan skrining kanker leher rahim dalam CKG. Yang mengikuti skrining itu, katanya, baru ada sekitar 1,3 juta atau 12,25 persen dari 10,9 juta perempuan berusia 30-69 tahun yang mengikuti CKG.
Baca juga: Studi: Vaksin HPV efektif cegah kanker serviks hingga 80 persen
Kemudian, katanya, hanya ada 169 laboratorium yang bisa menjadi rujukan pemeriksaan HPV DNA di level kabupaten dan kota. Padahal, ada 514 kabupaten dan kota yang menangani.
Sebagai upaya perluasan metode self-sampling prosedur HPV DNA, Kemenkes beserta mitra telah melakukan proyek percobaan pada 2025 di sejumlah wilayah, seperti di Surabaya dan Sidoarjo, Depok, Jakarta, dan Jayapura.
Metode self-sampling juga diperkenalkan di Bukit Tinggi, Surakarta, Maluku Tenggara, Jayapura, dan Penajam Paser Utara dengan sekitar 1.000 peserta. Pihaknya juga memperluas cakupan jenis skrining itu ke 100 ribu orang di 10 provinsi pada Desember 2025.
Mulai 2024, katanya, secara bertahap pihaknya juga mulai membangun lab di tiap kabupaten dan kota yang belum memiliki laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) tier 2 serta memenuhi kebutuhan PCR di lab yang belum memilikinya.
Nadia menilai, perlu adanya kolaborasi oleh seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa para perempuan Indonesia sehat, terbebas dari penyakit itu.
Baca juga: Kemenkes luncurkan Satu Juta Vaksin Kanker Serviks untuk ASN Perempuan
Baca juga: KORPRI hadirkan vaksinasi kanker serviks tingkatkan kesehatan ASN
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.