Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan masih menghitung kerugian tambak garam di Aceh yang terdampak bencana banjir sebelum menentukan langkah revitalisasi.
Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita mengatakan dua sentra utama garam di provinsi tersebut, yakni Kabupaten Pidie dan Aceh Jaya dilaporkan mengalami kerusakan.
“Ketika ada anggarannya (untuk revitalisasi), nanti kami akan berkoordinasi dulu dengan dinas untuk tahu berapa persis kerugiannya, kebutuhan biayanya, dan segala macamnya,” kata Frista di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan pemulihan tambak garam membutuhkan sejumlah langkah teknis, antara lain membangun ulang pematang, meratakan kembali lahan, serta membersihkan meja kristal yang tertutup lumpur akibat banjir.
Selain itu, ia mengatakan geomembran yang rusak juga perlu diganti. Geomembran adalah lembaran pelapis sintetis yang digunakan untuk menutup permukaan meja kristal tambak agar proses penguapan air laut lebih efisien dan menghasilkan garam berkualitas.
“Proses perbaikannya saya kira tidak lama. Kalau anggaran tersedia perbaikan bisa cepat kami lakukan,” katanya.
Saat ini terdapat 11 daerah di Aceh yang menjadi sentra produksi garam, di antaranya Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Timur, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan.
Pada 2025, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pidie mencatat luas tambak garam rakyat di wilayah tersebut mencapai 37,18 hektare dengan melibatkan 413 petani.
Produksi garam rakyat di Kabupaten Pidie pada 2024 tercatat sebesar 5.083 ton. Sementara, produksi garam Aceh secara keseluruhan pada 2024 mencapai 12.380 ton.
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.