Jakarta (ANTARA) - Tembakau telah menjadi bagian penting dari denyut ekonomi dan sosial Jawa Timur, selama berabad-abad.
Warisan pertembakauan di Jawa Timur terlihat dari daerah-daerah penghasil, seperti Jember, Madura, Kediri, hingga Bojonegoro yang memiliki tradisi panjang dalam budi daya tembakau. Industri rokok kretek raksasa pun tumbuh di provinsi ini, menyediakan ratusan ribu lapangan kerja dan menciptakan mata rantai ekonomi yang melibatkan petani, buruh linting, pedagang, hingga eksportir.
Dengan latar belakang historis tersebut, tembakau di Jawa Timur bukan sekadar komoditas pertanian biasa, melainkan pilar sosial-ekonomi yang membentuk kesejahteraan lintas generasi.
Di tengah tekanan regulasi kesehatan yang kian ketat dan meningkatnya impor bahan baku, penting bagi kita untuk meninjau kembali peran strategis tembakau bagi Jawa Timur, mulai dari jejak historis dan kontribusi ekonominya saat ini, hingga relevansinya dalam menjaga ekosistem pertembakauan nasional ke depan.
Kontribusi ekonomi
Industri hasil tembakau (IHT) merupakan salah satu sektor paling padat karya di Indonesia, dan Jawa Timur adalah pusat utamanya. Dari perkebunan tembakau di perdesaan, hingga pabrik rokok di kawasan perkotaan, rantai pasok komoditas ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja langsung dan jutaan lainnya secara tidak langsung.
Jawa Timur, bahkan menjadi lokomotif produksi tembakau nasional, dengan kontribusi provinsi ini mencapai sekitar 57 persen dari total produksi daun tembakau Indonesia. Pada tahun 2024 saja, Jawa Timur menghasilkan 185 ribu ton tembakau kering dari areal seluas 147 ribu hektare. Angka ini menjadikan Jawa Timur provinsi penghasil tembakau terbesar di Tanah Air, jauh melampaui daerah sentra lain, seperti Nusa Tenggara Barat atau Jawa Tengah.
Kekuatan sektor ini juga tercermin dari struktur industrinya, dimana Jawa Timur memiliki tidak kurang dari 1.728 unit usaha industri hasil tembakau, terbanyak secara nasional, yang mempekerjakan sekitar 287 ribu pekerja pada tahun 2024.
Lapangan kerja tersebut mencakup buruh linting sigaret kretek tangan di pabrik-pabrik, karyawan pabrik rokok mesin, hingga petani dan buruh tani tembakau di perdesaan. Jumlah itu pun belum termasuk tenaga kerja di sektor pendukung, seperti distribusi, transportasi, dan perdagangan eceran produk tembakau.
Tidak heran, sumbangan IHT terhadap perekonomian Jawa Timur sangat signifikan, sekitar 22,8 persen dari total luaran industri pengolahan di provinsi ini, dan menempatkannya sebagai kontributor PDRB industri terbesar kedua di Jawa Timur.
Dampak ekonomi tembakau Jawa Timur tidak hanya dirasakan di tingkat lokal, tetapi juga mengalir kuat ke perekonomian nasional. Provinsi ini adalah basis bagi banyak pabrik rokok skala besar, sehingga memberikan kontribusi dominan pada penerimaan negara dari cukai.
Diperkirakan hampir 60 persen dari total penerimaan cukai hasil tembakau nasional berasal dari aktivitas industri rokok di Jawa Timur.
Sebagai ilustrasi, pada tahun anggaran 2024 penerimaan cukai rokok nasional mencapai sekitar Rp226 triliun, yang berarti sektor IHT Jawa Timur saja menyetor lebih dari seratus triliun rupiah kepada kas negara dalam bentuk cukai. Sebagian dari dana ini kemudian kembali ke daerah penghasil melalui mekanisme Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), yang digunakan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Timur untuk membiayai layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, dan program kesejahteraan masyarakat.
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.