Banda Aceh (ANTARA) - Tiada seorang ibu rela meninggalkan anak dalam keadaan apapun. Ungkapan itu dibuktikan juga oleh perempuan bernama lengkap Faridah.

Ibu berumur 32 tahun itu berjuang di tengah air kecoklatan berlumpur yang telah menerobos dan merendam tempat tinggalnya di Gampong Beuringen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya pada Rabu (26/11) tengah malam.

Tak ada hal lain yang terpikir di benaknya di tengah malam itu, selain memastikan Ihzalul Farza (9 tahun) anak pertamanya yang terbaring dengan kondisi hanya mampu tersenyum tanpa berkata-kata akibat kecelakaan 1 tahun dua bulan silam, serta Michaila sang adik (3 tahun) dalam gendongan, bisa bertahan dan melewati musibah di malam itu.

Dibantu Rosmiati sang ibu kandung dan Melisa adik perempuannya, Faridah​​​​​​​ berjibaku di tengah kepungan banjir. Mereka saling bahu membahu menyelamatkan dua "malaikat" kecil itu agar selamat dan tetap dalam kondisi aman.

Faridah menuturkan, banjir memang sudah menjadi langganan warga daerah itu. Mereka bahkan telah menyiapkan tempat yang lebih tinggi sebagai tempat evakuasi saat banjir melanda.

Namun, musibah di tengah malam itu, justru berbeda dengan banjir tahun-tahun sebelumnya yang pernah melanda kampung halaman ibu dari enam bersaudara itu.

Air, malam itu, datang begitu cepat, melebihi banjir yang pernah mereka alami. Air keruh kecoklatan itu masuk dengan bebas dalam rumahnya dengan ikut serta membawa lumpur.

Mereka terus berjibaku di tengah kepungan banjir beserta lumpur. Lewat peralatan seadanya mereka berusaha agar dek Farza yang terbaring di kasur decobitus tetap aman bersama adiknya Micheila

Baca juga: ICMI kirim relawan ke daerah bencana di Aceh Tamiang

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.