Targetnya adalah pasien bisa kembali aman ke aktivitas atau olahraga tanpa risiko cedera ulang
Jakarta (ANTARA) - Banyak individu datang ke gym bukan sekadar untuk meningkatkan kebugaran, tetapi juga untuk menjalani program pemulihan setelah cedera. Tren ini menunjukkan bahwa saat ini semakin banyak orang memahami bahwa proses pemulihan tidak cukup mengandalkan istirahat atau obat pereda nyeri.
Jika sebelumnya pemulihan lebih berfokus pada pengurangan nyeri, kini menekankan pada perbaikan fungsi tubuh secara menyeluruh. Karena itu, strength training atau latihan kekuatan menjadi salah satu metode yang saat ini marak dilakukan untuk pemulihan cedera. Strength training atau latihan kekuatan terbukti efektif mengembalikan kestabilan dan performa tubuh usai cedera.
Namun, pemulihan yang efektif membutuhkan latihan yang bertahap, terukur, dan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Seorang sport physiotherapist sekaligus pelatih di salah satu pusat kebugaran Muhammad Iqbal kepada ANTARA mengatakan bahwa latihan kekuatan dalam rehabilitasi bukan berarti langsung mengangkat beban berat. Akan tetapi dengan memberikan beban yang tepat agar jaringan yang cedera dapat beradaptasi kembali.
Untuk dapat mengembalikan fungsi gerak dan performa tubuh, biasanya coach Iqbal sapaan akrabnya, menerapkan program latihan terencana.
“Program latihan untuk pasien terapi itu biasanya progressive loading ya. Jadi menaikkan beban secara perlahan sesuai kemampuan, sehingga tubuh bisa mengaktifkan kembali movement memory-nya,“kata Iqbal.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.