Untuk menjaga momentum, investasi dan ekspor menjadi motor utama.

Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai investasi dan kegiatan ekspor menjadi sejumlah motor utama untuk menggerakkan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tahun 2026.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 adalah moderat, melanjutkan perlambatan sejak 2025, dan baru pulih bertahap menuju single digit tinggi atau dua digit bawah.

“Untuk menjaga momentum, investasi dan ekspor menjadi motor utama,” kata Shinta.

Adapun target investasi Indonesia pada tahun 2026 sebesar Rp2.175 triliun dinilai dapat dicapai dengan sejumlah prasyarat.

“Antara lain pertumbuhan 13-17 persen per kuartal, proyek strategis yang berlanjut, perbaikan iklim usaha, serta dampak hilirisasi,” kata Shinta.

“Ekspor perlu lebih konsisten pada kisaran 7 persen-16 persen secara tahunan (yoy), agar kontribusi sektor eksternal menguat dan menjadi fondasi percepatan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut, untuk proyeksi tahun 2026, Apindo menyoroti peluang ekspor dari reorientasi rantai pasok global. Diversifikasi pasar ke Afrika, Asia Tengah, dan Amerika Latin perlu dipercepat, sambil menjaga penguatan perdagangan dengan China, Amerika Serikat (AS), India, dan Malaysia.

“Optimisme perjanjian dagang dengan AS serta percepatan 19 PTA FTA/CEPA, 12 ratifikasi, dan 14 perundingan, termasuk EU–CEPA 2027, menjadi instrumen penting. Indonesia juga harus mewaspadai lonjakan impor akibat tarif AS dan melemahnya permintaan di pasar utama,” kata Shinta.

Di sisi lain, Apindo memandang stabilitas makroekonomi menjadi prasyarat yang harus dijaga untuk mendorong pertumbuhan.

Apindo memproyeksikan inflasi 2026 di kisaran 2,5 ± 1 persen, selaras target BI, ditopang ekspektasi yang terjaga, kapasitas produksi memadai, serta tekanan harga impor yang stabil.

Defisit APBN 2026 diproyeksikan 2,7 persen-2,9 persen terhadap PDB, sehingga disiplin fiskal melalui optimalisasi pendapatan, efisiensi belanja, dan mitigasi risiko kuasi-fiskal tetap krusial.

Lebih lanjut, kurs rupiah diperkirakan bergerak di Rp16.500-Rp16.900 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan tekanan eksternal yang kuat akibat volatilitas global dan potensi kenaikan suku bunga The Fed menyusul lonjakan inflasi AS.

“Dalam kondisi ini, ruang penurunan suku bunga BI pada awal 2026 terbuka, meski dapat menyempit jika imported inflation meningkat. Karena itu, BI perlu menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap pertumbuhan,” kata Shinta.

Baca juga: BI nilai surplus neraca dagang Oktober dukung ketahanan eksternal RI

Baca juga: Mendag targetkan pertumbuhan ekspor Indonesia 9,6 persen pada 2029

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.