Khartoum (ANTARA) - Jumlah korban tewas akibat serangan pesawat tidak berawak (drone) di wilayah sipil Kalogi, Negara Bagian Kordofan Selatan, Sudan selatan, Kamis (4/12), meningkat menjadi 114 orang, sebut pemerintah negara bagian itu, Minggu (7/12).
"Hingga saat ini, jumlah korban tewas telah menembus 114 jiwa, termasuk 63 anak-anak, dan korban luka berjumlah sekitar 71 orang," kata Gubernur Mohamed Ibrahim Abdel Karim dalam sebuah pernyataan, seperti dilaporkan Xinhua, Senin.
Ibrahim menambahkan, jumlah korban masih bisa terus bertambah karena beberapa korban yang luka parah telah dievakuasi ke rumah sakit di luar Kalogi akibat keterbatasan layanan medis lokal.
Otoritas Sudan menuding Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan Utara (Sudan People's Liberation Movement-North/SPLM-N), yang dipimpin oleh Abdelaziz Al-Hilu, berkoordinasi dengan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Force/RSF) untuk melancarkan serangan yang menurut mereka menargetkan area sipil itu.
Kelompok sukarelawan pada awalnya melaporkan sembilan korban tewas dan tujuh korban luka akibat serangan tersebut, menyalahkan RSF dan SPLM-N, yang menguasai wilayah luas di Kordofan Selatan.
Pada Jumat (5/12), Pemerintah Negara Bagian Kordofan Selatan menaikkan jumlah korban tewas menjadi 79 orang. Baik RSF maupun SPLM-N belum memberikan komentar mengenai serangan tersebut.
Pertempuran antara tentara Sudan dan RSF, yang meletus pada April 2023, telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa jutaan orang mengungsi, menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa kekerasan di wilayah Kordofan meningkat belakangan ini, sehingga memicu gelombang pengungsian besar-besaran dan penderitaan warga sipil.
Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.