Sinergi ini memastikan lingkungan tetap terlindungi, tanpa mengorbankan kesejahteraan petani, menjadikan agroforestri sebagai pilar penting pembangunan berkelanjutan

Jakarta (ANTARA) - Musim hujan akhir 2025 membawa bencana besar di Sumatra. Banjir bandang dan longsor merenggut lebih dari 900 nyawa serta memaksa 1,2 juta orang mengungsi.

Meski meteorolog menyebut interaksi siklon tropis langka sebagai pemicunya, para pakar lingkungan menegaskan bahwa kerusakan akibat ulah manusia jauh lebih menentukan. Deforestasi masif, perizinan penebangan dan penambangan yang longgar, serta alih fungsi lahan yang tak terkendali telah merobohkan "infrastruktur hijau" yang sejatinya melindungi Indonesia dari bencana hidrometeorologi.

Tanpa tutupan vegetasi yang kuat, air hujan mengalir deras di permukaan, mempercepat erosi dan memicu banjir besar. Peringatan Walhi Jawa Barat tentang pembabatan kebun teh di Pangalengan untuk tanaman semusim menjadi bukti tragis bahwa hilangnya vegetasi permanen memperburuk limpasan, memperlemah daya serap tanah, dan membuka jalan bagi banjir bandang.

Peristiwa di Sumatra mengingatkan bahwa kunci pencegahan bencana terletak di hulu, pada akar tanaman dan sistem lahan yang dikelola selaras dengan kaidah ekologis.

Berbagai pendekatan konservasi, seperti pola tanam aren, kopi bernaungan, terasering teh, hingga budi daya serai wangi di lereng bukit telah terbukti efektif mengurangi erosi, menahan limpasan air, serta menstabilkan struktur tanah.

Agroforestri, bahkan memberikan manfaat berlapis, menyejukkan iklim lokal, menyerap karbon, dan menyediakan mata pencaharian yang berkelanjutan bagi jutaan petani. Jika paradigma pengelolaan lahan bergeser ke arah sistem berbasis pohon dan vegetasi permanen, potensi bencana dapat ditekan sejak dari akar persoalan.

Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan kerangka kebijakan yang mendukung, seperti skema Perhutanan Sosial dan program pemulihan daerah aliran sungai (DAS). Tantangannya, kini terletak pada kolaborasi, bagaimana masyarakat, pemerintah daerah, dan dunia usaha dapat bahu-membahu merawat kembali "jaring pengaman hijau" di hulu sungai.

Ketika hutan rakyat, agroforestri, dan vegetasi konservasi tumbuh kembali, Indonesia bisa menghadapi cuaca ekstrem dengan lebih tangguh, sembari memperkuat ekonomi rakyat berbasis alam.

Tanaman konservatif

Ada sebuah sistem konservatif dan pencegah banjir, serta dapat dterapkan, yaitu agroforestri. Sistem ini merupakan model pertanian terpadu yang memadukan tanaman kehutanan, Perkebunan, seperti aren, kopi, kakao, dan rempah, berada dalam satu lanskap yang saling menguatkan.

Dalam pendekatan ini, tanaman perkebunan tidak hanya menghasilkan komoditas bernilai ekonomi, tetapi juga berperan sebagai "benteng hidup" yang menjaga lereng tetap stabil. Pohon aren (Arenga pinnata) adalah contoh nyata, akar serabutnya yang menyebar luas dan tajuknya yang lebat mampu meredam curah hujan, mengikat tanah, serta menyerap limpasan air sebelum mengalir deras ke bawah. Pada lereng yang telah ditanami aren, tanah tertutup vegetasi kuat, sehingga menunjukkan bagaimana pohon ini bekerja sebagai pelindung alami dari erosi dan longsor.

Selain aren, berbagai tanaman perkebunan lain juga terbukti efektif memperkuat struktur tanah dan mencegah degradasi lingkungan. Serai wangi (Cymbopogon nardus) tumbuh rapat dan berakar kokoh, sehingga cocok untuk memulihkan lahan kritis, menahan sedimen, sekaligus menghasilkan minyak atsiri berorientasi ekspor.

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.