Pendidikan vokasi adalah investasi untuk masa depan. Dengan SDM yang kompeten dan unggul, industri kita akan tumbuh lebih produktif, resilien, dan berdaya saing global.

Yogyakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengembangkan agenda vokasi go global yang mengarahkan pendidikan vokasi di bawah naungan Kemenperin, agar menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkompetensi internasional, serta kemampuan adaptif.

"Pendidikan vokasi adalah investasi untuk masa depan. Dengan SDM yang kompeten dan unggul, industri kita akan tumbuh lebih produktif, resilien, dan berdaya saing global,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pernyataan diterima di Yogyakarta, Selasa.

Melalui pendekatan ini, Kemenperin mendorong penguatan kurikulum yang mengacu pada standar industri internasional, penerapan sertifikasi profesi berlevel global, perluasan kemitraan strategis dengan industri mancanegara, serta fasilitasi mobilitas tenaga kerja terampil lintas negara.

Tak hanya itu, lewat agenda ini, lulusan vokasi juga didorong membangun jejaring alumni berskala global untuk memperkuat konektivitas industri dan memperluas peluang kerja maupun kolaborasi bisnis internasional.

Model ini pula dirancang untuk mendukung Indonesia masuk ke rantai pasok global pada sektor-sektor strategis, seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, otomasi industri, energi hijau, serta manufaktur berkelanjutan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi menjelaskan, penguatan pendidikan vokasi merupakan bagian penting dari SBIN, yang memberi penekanan pada pengembangan SDM industri berdaya saing tinggi.

Menurutnya, sektor-sektor prioritas nasional saat ini membutuhkan sumber daya manusia dengan keterampilan baru yang relevan dengan teknologi mutakhir.

“Kita harus menjawab kebutuhan masa depan. Target pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi tidak mungkin tercapai kalau SDM-nya masih seperti dahulu. SDM harus produktif, terampil, kompeten, dan berorientasi global,” ujarnya.

Doddy menegaskan, pendidikan vokasi Indonesia tidak boleh terbatas pada penyedia tenaga kerja untuk industri domestik, tetapi harus menjadi bagian penting dari ekosistem industri global, baik melalui kompetensi teknis, mobilitas tenaga kerja, maupun jejaring profesional.

Komitmen tersebut tampak pada penyelenggaraan wisuda serentak yang melepas sebanyak 2.993 lulusan dari 11 politeknik dan 2 akademi komunitas milik Kemenperin.

Lebih lanjut, kata dia lagi, pihaknya akan terus memperkuat ekosistem pendidikan vokasi melalui modernisasi kurikulum, peningkatan kapasitas instruktur, penyediaan teknologi pembelajaran, serta perluasan jejaring global.

Salah satu unit pendidikan vokasi milik Kemenperin yang menjalankan mandat tersebut adalah SMK-SMTI Yogyakarta. Unit pendidikan ini telah menerapkan model pendidikan dual system (dengan komposisi praktik mencapai 70 persen), dan kurikulum berstandar internasional sebagai strategi menyiapkan SDM industri yang unggul dan siap kerja.

SMK-SMTI Yogyakarta, yang dikelola langsung oleh BPSDMI Kemenperin, tercatat sebagai sekolah negeri terakreditasi A dan bersertifikat ISO 9001:2015.

Sekolah ini menerapkan model pembelajaran berbasis proyek, keterampilan teknis, serta karakter kerja, yang dipadukan dengan fasilitas laboratorium, workshop, dan sertifikasi kompetensi internasional.

Untuk memberikan kompetensi yang diakui industri global, siswa SMK-SMTI Yogyakarta mengikuti sertifikasi Vapro (Belanda) dan Siemens (Jerman), serta sertifikasi nasional melalui BNSP dan kemampuan bahasa Inggris melalui TOEIC.

Penerapan sertifikasi ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terstruktur, dari penerimaan siswa, pembelajaran di sekolah, magang di industri, hingga penempatan kerja. SMK-SMTI Yogyakarta juga melibatkan industri sebagai mitra dalam pengembangan kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, magang, serta penyerapan lulusan.

Masa studi sekolah ini selama tiga tahun, dengan empat semester pembelajaran di sekolah, dan dua semester di industri.

Baca juga: Kemenperin tegaskan vokasi sebagai pilar penting implementasi SBIN

Baca juga: Perkuat SDM industri, Kemenperin tegaskan dukung Magang Nasional

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.