Jakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta mengungkap kondisi operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, sebelum ada sopir truk pengangkut sampah yang meninggal dunia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto di Jakarta, Selasa, mengakui ada beban yang berat dihadapi sopir atau pengemudi truk sampah.
Hal itu akibat cuaca ekstrem yang akhir-akhir ini hampir setiap hari mengguyur kawasan tersebut.
Menurut dia, curah hujan tinggi mempengaruhi kelancaran pembuangan sampah dan ritme kerja para pengemudi serta petugas di lapangan.
“Setiap kali hujan deras, pembuangan harus kami hentikan sementara demi keselamatan pekerja. Kondisi 'landfill' yang semakin meninggi menyimpan risiko yang tidak bisa kami abaikan,” katanya.
Baca juga: DKI batasi angkut sampah 1.000 ton per hari ke RDF Rorotan
Dalam kondisi normal, waktu tunggu truk sampah di TPST Bantargebang berkisar tiga jam. Namun beberapa hari terakhir antrean meningkat tajam hingga enam sampai delapan jam.
Adapun usai hujan mereda, petugas membutuhkan waktu tambahan untuk menata kembali area tempat pembuangan sampah (landfill) sebelum pelayanan dibuka secara bertahap.
Kondisi tersebut secara otomatis memperpanjang waktu tunggu dan menambah beban kerja para pengemudi.
Selain itu, tekanan operasional juga meningkat akibat genangan air pada jalur menuju titik buang.
Genangan itu dipicu oleh longsoran di TPA Sumur Batu milik Pemerintah Kota Bekasi yang menutup aliran Kali Asem sehingga air tertahan dan mengganggu mobilitas truk sampah.
Baca juga: DKI optimalkan TPS3R yang mangkrak
Menurut dia, kondisi-kondisi inilah yang membuat antrean truk memanjang dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, seorang sopir truk sampah meninggal saat antre membuang sampah di TPST Bantargebang pada Jumat (5/12). Ia diduga kelelahan setelah mengantre terlalu lama untuk membongkar muatan.
Asep menyampaikan kejadian tersebut menjadi perhatian serius Pemprov DKI sekaligus momentum untuk memperbaiki pola pengangkutan sampah serta menata ulang operasional TPST Bantargebang agar lebih aman, tertib dan terkendali.
Untuk merespon situasi tersebut, DLH DKI Jakarta membuka dua titik buang tambahan sehingga lima titik buang dapat beroperasi paralel.
Selain itu, mengatur ulang jam keberangkatan truk dari tiap wilayah untuk mengurangi penumpukan antrian pada jam-jam tertentu.
Baca juga: DKI susun Raperda Pengelolaan Mutu Udara untuk kendalikan pencemaran
Dengan penjadwalan yang lebih teratur, kata dia, arus kendaraan bisa dikendalikan dan waktu antre menjadi lebih efisien.
Namun, dia menegaskan bahwa langkah-langkah situasional tidaklah cukup. Karena itu, Pemprov DKI memastikan akan melakukan penataan menyeluruh terhadap pola pembuangan dan operasional TPST Bantargebang.
Upaya ini meliputi manajemen antrean, pengaturan perjalanan bolak-balik (ritase), peningkatan fasilitas pendukung hingga penguatan standar keselamatan dan kesehatan kerja bagi pengemudi truk sampah.
Asep juga mengajak masyarakat untuk ikut meringankan beban sistem pengangkutan dengan mengurangi sampah dari sumbernya.
Dia mengimbau warga memilah sampah rumah tangga, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan meningkatkan praktik daur ulang di lingkungan masing-masing.
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.