Jakarta (ANTARA) - Laporan terbaru mengenai galangan kapal BUMN telah memantik kembali fokus publik terhadap agenda strategis nasional: penguatan industri perkapalan nasional.
Optimisme industri maritim nasional akan memiliki prospek yang cemerlang muncul seiring penetapan target penting oleh pemerintah, yaitu kemandirian industri pertahanan yang terintegrasi dengan kebutuhan konektivitas maritim pada tahun 2029.
Target tersebut bukan sekadar ambisi politik, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kedaulatan logistik dan menggerakkan ekonomi di negara kepulauan.
Kegagalan mencapai kemandirian di sektor ini berarti terus mempertahankan kerentanan logistik nasional terhadap gejolak valuta asing dan pasokan impor.
Namun, untuk mencapai kemandirian sejati, kita harus mampu mengatasi dua hambatan utama yang saat ini membayangi industri pengolahan nasional. Di hulu, hambatannya adalah ketergantungan pada komponen impor dan teknologi usang, sementara di hilir ada birokrasi dan kebijakan fiskal yang menghambat.
Secara makro, fondasi industri kita sebetulnya sudah sangat kuat. Indonesia adalah kekuatan manufaktur terbesar di Asia Tenggara.
Berdasarkan data World Bank tahun 2024, nilai Manufacturing Value Added (MVA) nasional mencapai 265,07 miliar dolar AS, menempatkan Indonesia pada posisi ke-13 dunia dan nomor satu di ASEAN.
Angka tersebut membuktikan bahwa kapasitas produksi dan kapabilitas industri pengolahan nasional sudah kuat. Namun, ada ironi yang harus dipecahkan. Meskipun MVA kita unggul jauh di atas Vietnam, Malaysia, dan Thailand, nilai ekspor manufaktur kita justru tertinggal.
MVA yang tinggi, namun ekspor rendah, ini mengindikasikan bahwa struktur industri pengolahan kita lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Ketergantungan pada pasar domestik ini membuat industri, termasuk perkapalan, rentan terhadap fluktuasi permintaan lokal dan kurang terpacu untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi yang diperlukan untuk bersaing di pasar global.
Industri perkapalan tidak boleh terjebak dalam pola tersebut. Jika BUMN perkapalan ingin mencapai kemandirian, orientasi pasarnya harus berubah dari sekadar memenuhi kebutuhan domestik menjadi pemain global yang kompetitif.
Ambisi untuk menembus pasar ekspor dan menopang konektivitas logistik adalah hal mendasar, karena hal itu akan menjadikan produk perkapalan kita unggul, sekaligus membawa devisa.
Optimisme industri yang menyebut industri maritim ini optimistis menembus pasar ekspor merupakan sinyal bahwa inilah saatnya bagi industri perkapalan nasional untuk fokus pada kualitas standar internasional.
Kualitas, presisi, dan modernisasi
Kemandirian tidak akan terwujud jika komponen inti kapal masih harus diimpor dan proses produksinya rentan kesalahan.
Isu strategis utama yang disoroti oleh Kemenperin adalah ketergantungan pada komponen dan teknologi impor serta penggunaan peralatan tua yang menghambat presisi.
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.