Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan bahwa ratifikasi kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) hanya tinggal menunggu Presiden Prabowo Subianto mengajukan pembahasan ke DPR.

“Sudah di Presiden. Nanti Presiden tinggal ke DPR ya. Nanti di DPR, dibahas, di internal, diturunkan,” kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono dalam acara 'Canada–In-Asia: Momentum Jakarta’ di Jakarta, Rabu.

Djatmiko menuturkan bahwa kementerian sendiri tidak dapat menentukan kapan ratifikasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dapat selesai karena pembahasan internal memang selalu memakan waktu dan sulit diprediksi.

Menurutnya, begitu pembahasan ICA-CEPA masuk ke parlemen, maka pemerintah perlu menjalani beberapa prosedur dan langkah untuk meyakinkan betapa pentingnya kesepakatan dagang tersebut.

“DPR kan juga berjenjang gitu, nanti dibahas di komisi, nanti diputuskan pakai undang-undang, atau pakai Perpres (Peraturan Presdien). Kemudian itu diputuskan, bisa lewat Perpres, nanti dikembalikan ke pemerintah, nanti ditandatangan oleh Presiden,” ucapnya.

Begitu parlemen memberikan persetujuan, lanjutnya, Kemendag akan segera mengimplementasikan perjanjian ekonomi tersebut secepat mungkin.

Djatmiko menjelaskan bahwa ICA-CEPA merupakan sebuah tonggak sejarah, bukan hanya bagi Indonesia dan Kanada, tetapi juga bagi hubungan Kanada dengan kawasan Asia.

Dirinya turut menyoroti kondisi dinamis global yang menjadi salah satu alasan dibalik terwujudnya penandatangan ICA-CEPA pada September. Penandatangan berhasil dilakukan dengan rentang pembahasan yang kurang dari 24 bulan.

“Tahun ini menjadi tahun yang paling menantang bagi semua orang. Semua orang akan menghadapi masa yang paling sulit, baik secara individu, sebagai kelompok, maupun sebagai anggota komunitas perdagangan global,” ujarnya

“Namun setidaknya, antara Indonesia dan Kanada, kita bisa menegaskan dasar yang akan mendukung peningkatan hubungan perdagangan dan investasi ekonomi kita ke depan,” tambahnya.

Adapun penandatanganan ICA-CEPA yang disaksikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Ottawa, Kanada, pada 24 September 2025.

Melalui implementasi ICA-CEPA, lebih dari 90 persen pos tarif Indonesia mendapat preferensi di pasar Kanada. Bahkan, beberapa produk akan langsung menikmati tarif 0 persen.

Sejumlah komoditas yang akan merasakan dampak langsung dari ICA-CEPA, di antaranya adalah produk olahan makanan, manufaktur, otomotif, elektronik, tekstil, hingga alas kaki.

Sementara itu, Indonesia membuka pasar sebesar 85 persen pos tarif untuk produk prioritas Kanada, seperti gandum, kentang, hingga daging sapi beku.

Pada Januari-Juli 2025, total perdagangan Indonesia dan Kanada mencapai 2,72 miliar dolar Amerika Serikat (AS), naik sekitar 30 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,09 miliar dolar AS.

Sedangkan ekspor Indonesia tercatat 1,01 miliar dolar AS, sementara impor dari Kanada mencapai 1,71 miliar dolar AS.

Baca juga: Kanada bidik perluasan kerja sama agrifood dengan Indonesia

Baca juga: Kanada tegaskan dukungan bagi program prioritas Presiden Prabowo

Baca juga: LPEM UI prediksi ekspor RI ke Kanada naik 78,71 persen berkat ICA-CEPA

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.