Depok (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mendorong Universitas Indonesia (UI) untuk menghasilkan riset inovatif mendukung pengembangan produk kosmetik dan suplemen antipenuaan karena miliki potensi pasar yang sangat besar di era silver economy.
“Produk kosmetik anti-penuaan dan suplemen kesehatan memiliki potensi pasar yang sangat besar di era silver economy. Namun, inovasi harus dibangun di atas fondasi sains yang kuat, uji keamanan yang komprehensif, serta regulasi yang mampu melindungi konsumen lansia sebagai kelompok rentan,” kata Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam keterangan tertulis dari UI, Rabu.
Taruna menegaskan hal tersebut saat menjadi pembicara utama dalam kuliah umum di Fakultas Farmasi UI pada yang mengusung tema “Tren Global dan Respon Regulasi: Prospek Produk Kecantikan Anti-Penuaan dan Suplemen di Silver Economy”.
Taruna menjelaskan bahwa silver economy merupakan fenomena demografis yang tidak dapat terpisahkan dari peningkatan kebutuhan produk kesehatan, perawatan diri, dan suplemen bagi lansia.
Namun demikian, kelompok lansia juga memiliki karakteristik fisiologis berbeda, sehingga memerlukan perhatian khusus dari segi formulasi produk, klaim manfaat, serta aspek keamanan.
Ia mengatakan kuliah umum juga berperan sebagai ruang strategis untuk pertukaran gagasan terkait tantangan dan peluang industri kosmetik dan suplemen di tengah meningkatnya populasi lanjut usia di tingkat global.
Taruna juga menekankan peran BPOM dalam memastikan keamanan, mutu, dan klaim produk melalui pengawasan sebelum pemasaran dan pasca-pemasaran, penguatan standar, serta pendekatan regulasi berbasis risiko dan bukti ilmiah.
Ia juga menyoroti pentingnya literasi konsumen dan tanggung jawab industri dalam menyampaikan informasi produk secara etis dan akurat.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI Hamdi Muluk menilai bahwa kolaborasi antara akademisi dan regulator merupakan kunci dalam membangun ekosistem riset dan inovasi yang berorientasi pada perlindungan masyarakat.
Dia mengatakan Fakultas Farmasi UI memiliki peran strategis dalam menjembatani riset dengan kebutuhan regulasi dan industri.
Dekan Fakultas Farmasi UI Arry Yanuar menyampaikan bahwa kegiatan itu mencerminkan komitmen Fakultas Farmasi UI dalam mengintegrasikan sains, inovasi, dan regulasi.
“Public lecture ini menjadi wujud nyata sinergi akademisi dan regulator dalam menjawab tantangan pengembangan produk kosmetik dan suplemen di era silver economy, dengan menempatkan keselamatan dan perlindungan konsumen sebagai prioritas utama,” ujar Arry Yanuar.
Baca juga: Doktor UI temukan potensi akar tanaman congkok untuk antipenuaan
Baca juga: BPOM ajak media dan pemengaruh beri edukasi publik soal kosmetik aman
Baca juga: Farmasi UI perkuat komitmen dalam inovasi kosmetik Indonesia
Pewarta: Feru Lantara
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.