...Peluang kerja masih sangat besar dan negara terus membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri

Kupang, NTT (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memperluas peluang kerja luar negeri dan migrasi aman melalui sosialisasi di Desa Fatuketi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, guna memastikan masyarakat setempat mengakses jalur kerja migran yang prosedural.

Wakil Menteri KP2MI Christina Aryani dalam keterangannya di Kupang, Rabu, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai agen perekrut non prosedural untuk menghindari praktik tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

“Ada agen yang turun ke desa mengatasnamakan berbagai pihak. Kalau Bapak dan Ibu mengalami itu, cek dulu kebenarannya. Pastikan apakah agen itu resmi atau tidak. Bisa tanya ke BP3MI NTT, atau cukup telepon, WhatsApp, atau email,” katanya saat kunjungan dan sosialisasi di Kapela St. Markus Ainiba, Desa Fatuketi, Kabupaten Belu.

Christina menyebut saat ini terdapat 351.000 lowongan kerja luar negeri per 1 Desember 2025. tetapi, baru 68.000 pekerja migran yang ditempatkan.

“Peluang kerja masih sangat besar, dan negara terus membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri,” ujarnya

Ia menegaskan pentingnya memenuhi syarat resmi sebelum mendaftar sebagai pekerja migran.

“Usia minimal 18 tahun, tapi tidak semua negara menerima usia itu. Turki misalnya minimal 20 tahun. Selain itu, calon pekerja harus punya kemampuan bahasa asing dan kompetensi dengan sertifikat. Banyak yang berangkat tidak prosedural karena kesulitan memenuhi kompetensi. Pemda bisa bantu lewat pelatihan supaya syaratnya terpenuhi,” jelasnya.

Baca juga: KP2MI jajaki kerja sama penempatan pekerja sektor strategis di Yunani

Ia berharap sosialisasi tersebut bisa meningkatkan pemahaman warga terkait migrasi aman, prosedural, dan terlindungi.

Sementara itu, Bupati Belu Willybrodus Lay mengatakan masih minimnya informasi soal peluang kerja luar negeri yang sampai ke warga.

“Pemerintah daerah belum bisa menyediakan informasi memadai bagi masyarakat yang ingin mencari peluang kerja di luar negeri. Akibatnya banyak warga yang menganggur dan tersesat karena kurangnya informasi. Harapan kami, kunjungan Ibu Wamen Christina membawa angin segar untuk mengurangi pengangguran di Belu,” ujarnya.

Pastor Paroki Stella Maris Atapupu RD. Gregorius Sainudin Dudy menyatakan banyak faktor yang mendorong warga bekerja ke luar daerah atau luar negeri.

“Banyak yang kerja karena punya utang atau terjebak pinjol. Ada juga yang pergi karena KDRT. Sebagian karena tuntutan adat, dan bekerja di luar negeri dianggap bisa memenuhi kebutuhan keluarga serta biaya sekolah anak,” tuturnya.

Ia menilai pendampingan keluarga, konseling, dan pelatihan pengelolaan keuangan rumah tangga penting untuk mencegah kekerasan maupun perdagangan orang.

“Kami bermitra dengan banyak pihak untuk mencegah hal ini. Dengan data yang kami punya, kami berusaha memberikan pelayanan yang tepat,” katanya.

Sosialisasi tersebut turut dihadiri Kepala Balai BP3MI NTT Suratmi Hamida, Plt. Camat Kakuluk Mesak Boykota, Ketua DPS Ainaba Ignasius Hale, Kepala Desa Dualius Oktobijalis Nape, PJ Persiapan Desa Lakafehan Narsi Narus, dan Pj. Kepala Desa Fatuketi Emilio Mau Buti.

Baca juga: KP2MI pastikan penanganan kasus eksploitasi pekerja migran di Malaysia

Baca juga: KP2MI perkuat pelindungan pekerja migran NTT yang responsif gender

Baca juga: Ombudsman saran KP2MI-Imipas kerja sama integrasi data pencegahan TPPO

Pewarta: Yoseph Boli Bataona
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.