Jakarta (ANTARA) - Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Anton Hendranata mengatakan peningkatan inklusi dan literasi keuangan menjadi strategi utama dalam mengakselerasi pertumbuhan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan perekonomian nasional.
"Concern strategisnya, mau tidak mau adalah akselerasi UMKM sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Pertama adalah peningkatan inklusi dan literasi keuangan, diiringi peningkatan kapasitas dan kapabilitas usaha dan tentu saja program pemberdayaan," kata Anton di sela acara PaDi Business Forum & Showcase 2025 di Jakarta, Rabu.
"Rasanya kalau itu tidak dilakukan, maka UMKM akan selalu tertinggal dan perannya tidak sesuai yang kita bayangkan seperti saat ini," ujarnya menambahkan.
Penguatan UMKM yang senada dengan pendekatan ekonomi kerakyatan oleh pemerintah, dinilai penting agar geliat perekonomian nasional bisa tangguh di tengah tantangan global saat ini.
Anton menilai saat ini kecenderungan pertumbuhan ekonomi global semakin tertekan dan semakin melambat, pun dari sisi pola perdagangan global yang menunjukkan tren sama.
"Kenapa itu bisa terjadi? Karena memang banyak kebijakan perdagangan yang mendistorsi perdagangan ekonomi dunia. Ini sangat terlihat bahwa kebijakan yang mendistorsi itu semakin naik signifikannya, bahkan berkali-kali lipat seperti yang kita hadapi sekarang," ujar Anton.
Ia mencontohkan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ia sebut "tidak terduga". Anton memperkirakan hal ini masih akan membayangi perdagangan global pada tahun depan.
"Situasi global juga tidak mudah, kita ketahui bahwa geopolitical risk juga cenderung meningkat dan ini kelihatan juga ketidakpastian ini selalu memengaruhi ekonomi dunia saat ini, sehingga menyebabkan uncertainty itu semakin nyata kita hadapi," kata Anton.
Penguatan inklusi dan daya saing UMKM pun menjadi strategi yang diambil mayoritas negara di dunia, termasuk Indonesia.
"Yang menarik adalah kalau situasi ketidakpastian global itu tinggi, maka suka atau tidak suka setiap negara harus melakukan strategi pertumbuhan ekonomi inklusif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar dia.
Ia menjelaskan jumlah UMKM di Indonesia sendiri mencapai lebih dari 64 juta unit dengan kontribusi terhadap PDB sebesar lebih dari 61 persen.
Data itu menunjukkan UMKM bukan sekadar usaha berskala kecil dan menengah, melainkan juga fondasi penting bagi ekonomi Indonesia.
"Terbukti bahwa UMKM berkontribusi cukup besar terhadap perekonomian setiap negara, baik dari nilai tambah maupun penyerapan tenaga kerja. Maka dari itu, ketika kita mengimani UMKM sebagai tulang punggung perekonomian, berarti kita harus bekerja keras bagaimana supaya UMKM ini dari hari ke hari semakin baik," jelas Anton.
Baca juga: Survei BRI catat aktivitas bisnis UMKM TW-III berada di fase ekspansi
Baca juga: Indeks Bisnis UMKM BRI Q3-2025: Ekspansi berlanjut, optimisme pelaku usaha meningkat
Baca juga: BRI salurkan KUR Rp147,2 triliun ke 3,2 juta debitur hingga Oktober
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.