Pangkalpinang (ANTARA) - PT Timah Tbk menyerahkan bantuan 500 paket sembako kepada Pemerintah Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, untuk dibagikan kepada korban banjir rob di Kelurahan Gedung Nasional dan Rejosari.

"Alhamdulillah, warga terdampak banjir rob sangat senang menerima bantuan sembako PT Timah Tbk ini," kata Wakil Wali Kota Pangkalpinang Dessy Ayutrisna di Kelurahan Gedung Nasional, Rabu.

Ia mengatakan saat ini sudah 830 paket sembako yang telah disalurkan PT Timah Tbk untuk membantu korban banjir rob di Kota Pangkalpinang. Hari ini PT Timah Tbk menyalurkan 500 paket sembako dan Selasa (9/12) 330 paket sembako.

"Hari ini kita menyalurkan 500 paket sembako di Kelurahan Gedung Nasional dan Rejosari, dan kemarin sebanyak 330 paket sembako bagi korban banjir rob di Kampung Opas Indah," katanya.

Baca juga: BPBD Bangka: 700 rumah warga pesisir Sungailiatt terdampak banjir rob

Ia menyatakan tingginya intensitas hujan disertai pasang air laut di Kota Pangkalpinang dalam beberapa hari terakhir membuat banjir rob semakin parah dan memperluas wilayah terdampak, sehingga mengganggu aktivitas harian warga, bahkan berdampak pada kesehatan dan kegiatan belajar anak-anak.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Timah Tbk yang sangat peduli kepada masyarakat terdampak banjir rob yang terjadi setiap tahun. Bisa kita lihat ekspresi warga tadi luar biasa bahagia saat menerima sembako. Semoga apa yang dilakukan PT Timah Tbk membawa keberkahan bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga untuk masyarakat Pangkalpinang,” ujarnya.

Camat Pangkalbalam Purnamawan mengatakan banjir rob kali ini melanda wilayah yang lebih luas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Banjir rob di Bangka meluas, mulai masuk rumah dengan ketinggian 30 cm

“Untuk tahun ini karena curah hujan juga lebih tinggi dari biasanya, sehingga wilayah yang terdampak lebih luas. Total ada 7 RT yang terdampak banjir rob. Alhasil aktivitas warga terganggu, terlebih lagi anak-anak sekolah yang saat ini sedang ujian, mereka banyak yang tidak bisa sekolah karena akses terbatas dan kondisi kesehatan tidak stabil,” ungkapnya.

Pewarta: Aprionis
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.