usaha kecil dan menengah, yang merupakan tulang punggung sebagian besar ekonomi, menghadapi peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kerentanan signifikan
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali menilai adopsi kecerdasan buatan (AI) dapat membuka peluang baru sekaligus mendatangkan tantangan tersendiri bagi pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Sebenarnya, usaha kecil dan menengah, yang merupakan tulang punggung sebagian besar ekonomi, menghadapi peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kerentanan yang signifikan,” kata Rhenald di sela The 3rd Jakarta International Competition Forum (3JICF) di Danareksa Tower, Jakarta, Kamis.
Terkait peluang, Rhenald mengatakan platform digital memberikan jangkauan nasional atau global secara langsung.
Pemanfaatan teknologi AI yang tepat, lanjutnya, dapat meningkatkan produktivitas, hingga melibatkan pelanggan secara langsung melalui berbagai inovasi pengusaha.
“Namun, di sisi lain, kerentanan tetap mendalam, seperti misalnya soal asimetri data. Platform mengumpulkan kumpulan data perilaku yang sangat besar, sementara UMKM hanya menerima wawasan yang terbatas,” ujar dia.
Selain itu, Rhenald juga menyoroti bagaimana algoritma dalam platform digital menimbulkan bias pencarian, hingga penetapan harga algoritmik yang tidak transparan.
“Selanjutnya, ada juga risiko ketergantungan. Ini karena platform mengintegrasikan logistik, pembayaran dan periklanan, sehingga UMKM menjadi semakin bergantung pada sistem yang tidak mereka kendalikan,” kata dia.
Pendiri Rumah Perubahan itu menilai sistem yang mengandalkan otomasi dapat menciptakan hasil yang diskriminatif atau eksklusif, sehingga berdampak bagi persaingan usaha.
“Untuk itu, memastikan bahwa UMKM dapat bersaing secara adil dan terbuka saat ini adalah misi utama organisasi dan otoritas di seluruh dunia,” ujarnya.
Lebih jauh, Rhenald mengatakan penting bagi para pemangku kepentingan seperti regulator hingga akademisi untuk memperkuat peran masing-masing guna mendorong penegakan hukum, tata kelola, serta kerja sama di era digital saat ini.
“Mari kita atasi kompleksitas ini bersama-sama. Mari kita bangun kerangka kerja regulasi yang memberdayakan inovasi, bukan membatasinya. Mari kita pastikan bahwa era AI menjadi era peluang bersama, sumber daya bersama dan data bersama,” kata Rhenald.
Baca juga: Rhenald Kasali: Tarif AS momentum pemerintah mereformasi kebijakan
Baca juga: Rhenald Kasali: Pemerintah harus bijak lakukan efisiensi anggaran
Baca juga: Riset sebut digitalisasi UMKM via QRIS buat investasi lebih efisien
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.