Ambon (ANTARA) - Universitas Pattimura (Unpatti) memperkuat riset dan jejaring kolaborasi internasional guna menjawab tantangan pembangunan wilayah kepulauan, khususnya di Maluku.

Rektor Unpatti, Prof Fredy Leiwakabessy di Ambon, Jumat, menyampaikan bahwa Maluku memiliki posisi strategis di jalur perdagangan Indonesia Timur, namun masih bergulat dengan tantangan khas daerah kepulauan, seperti keterbatasan konektivitas, ketergantungan logistik, hingga ancaman perubahan iklim.

“Ambon bukan hanya ibu kota provinsi, tetapi juga wajah karakter kepulauan Indonesia yang kaya sumber daya laut, punya sejarah perdagangan panjang, serta potensi besar di sektor pariwisata, industri kreatif, dan ekonomi berbasis lestari,” katanya setelah membuka The Third International Conference on Business and Economics (3rd ICON-BE) di Ambon.

Baca juga: Unpatti lakukan riset pengembangan sumber daya kemandirian pangan

The Third International Conference on Business and Economics (3rd ICON-BE) merupakan forum ilmiah internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura sebagai ruang pertemuan para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara.

Konferensi ini dirancang untuk memfasilitasi pertukaran gagasan, hasil riset, dan pengalaman terkait isu-isu ekonomi dan bisnis yang berkembang secara global, namun tetap relevan bagi konteks wilayah kepulauan.

Melalui pemaparan makalah dan diskusi panel, peserta konferensi membahas beragam tema mulai dari keberlanjutan, transformasi digital, hingga strategi pembangunan inklusif bagi daerah maritim seperti Maluku.

Menurut Rektor, ICON-BE menjadi momentum penting bagi Unpatti untuk memperkuat kolaborasi lintas negara sekaligus meningkatkan kualitas riset dan akademik, terutama di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Hal ini selaras dengan visi Unpatti, yakni Menjadi Pusat Pengembangan Ilmu Ekonomi dan Bisnis Berbasis Kepulauan Bereputasi Internasional pada 2035.

“Berbasis kepulauan berarti penelitian dan pengabdian harus grounded, mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat pulau-pulau kecil,” katanya.

Berkaitan dengan hal itu, ia juga menyoroti perubahan global yang semakin dinamis, mulai dari gejolak ekonomi, geopolitik, percepatan digitalisasi, hingga krisis lingkungan.

“Ketika logistik terganggu, masyarakat pulau merasakan dampaknya lebih cepat. Ketika digitalisasi berkembang, kesenjangan akses bisa melebar. Ketika isu keberlanjutan diabaikan, wilayah pesisir menjadi yang paling rentan,” tegasnya.

Baca juga: Unpatti Ambon MoU riset kelautan dengan Korea-Indonesia MTCRC

Baca juga: Unpatti: Hasil riset Teluk Ambon jangan sebatas konsep

Karena itu, ia menyebut ICON-BE bukan sekadar agenda akademik rutin, tetapi wadah untuk merumuskan strategi yang kontekstual bagi percepatan pembangunan kepulauan.

“Ini kesempatan merumuskan langkah konkret agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga adil dan inklusif, kehadiran peneliti dari berbagai negara menunjukkan bahwa isu pembangunan kepulauan telah menjadi percakapan global yang membutuhkan knowledge exchange dan kemitraan berkelanjutan,” tuturnya.

Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.