Bandarlampung (ANTARA) -

Tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) merancang dan mengembangkan mesin pengering kelapa dengan sistem indirect dryer yang menghasilkan kopra putih berkualitas industri.

"Mesin pengering dengan sistem pemanasan tidak langsung, yang kami kembangkan ini dapat menghasilkan kopra putih berkualitas industri, tanpa bau asap, memiliki kadar air yang stabil, serta mutu yang lebih seragam," kata Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Itera Dr. Muhamad Fatikul Arif, S.T., M.Sc. dalam keterangan yang diterima di Bandarlampung, Senin.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjaga kualitas minyak, meningkatkan higienitas, dan memperpanjang daya simpan, sehingga lebih diminati industri dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

"Teknologi ini bekerja dengan memisahkan sumber panas dari produk udara panas dihasilkan di ruang terpisah kemudian dialirkan secara merata melewati potongan daging kelapa," kata dia.

Baca juga: Tom dosen Itera ciptakan teknologi tambak udang berbasis IoT

Selain itu, lanjut dia, mesin pengering ini memanfaatkan biomassa lokal, seperti tempurung dan sabut kelapa, sebagai bahan bakar. Pemanfaatan limbah tersebut tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga mendorong praktik zero waste dan penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa.

"Karena proses pengeringan tidak bersentuhan langsung dengan asap dan hanya memanfaatkan panas, kopra yang dihasilkan berwarna putih, lebih higienis, nilai gizi lebih terjaga, serta lebih bebas jamur,” kata dia.

Menurut dia, selama ini banyak sentra produksi kelapa masih mengandalkan metode pengasapan langsung yang menyebabkan kopra berwarna gelap dan beraroma asap, sehingga minyak yang dihasilkan lebih cepat tengik, tingkat higienitas rendah, dan daya simpan menurun.

Baca juga: Alumni Itera kembangkan inovasi pengering hasil pertanian portabel

"Akibatnya, harga jual dan daya saing kopra asap kalah dibandingkan dengan kopra putih hasil pengeringan tidak langsung. Kondisi ini juga diperparah oleh praktik penjualan daging kelapa secara mentah, yang membuat nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) belum optimal," kata dia.

Pewarta: Dian Hadiyatna
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.