Jakarta (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyatakan ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi pelaku usaha untuk mengekspor durian beku ke China, menyusul diberlakukannya protokol ekspor durian beku antara Indonesia dan General Administration of Customs of China (GACC).

Plt. Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin Drama Panca Putra, dalam keterangan di Jakarta, Senin, menyampaikan aspek ketertelusuran (traceability) rumah pengemasan durian beku menjadi aspek penting melalui implementasi Peraturan Barantin No. 15 Tahun 2024 tentang Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) dan sarana pendukungnya.

Hingga kini, tercatat delapan rumah pengemasan durian beku telah memenuhi syarat sebagai IKT, terdiri atas tujuh di Sulawesi Tengah dan satu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Seluruhnya telah teregistrasi dalam sistem China Import Food Enterprise Registration,” kata Drama.

Drama menyampaikan durian beku (Durio zibethinus) yang dapat diekspor sesuai protokol karantina mencakup daging buah (pulp), pasta (puree), dan buah utuh (whole durian).

Produk tersebut harus berasal dari buah segar dan matang yang ditanam di Indonesia, kemudian dibekukan pada suhu -30°C atau lebih rendah dengan proses pembekuan cepat (quick freezing process) dan dipertahankan pada suhu inti -18°C atau lebih rendah.

Selain itu, durian beku wajib dipilih secara manual untuk memastikan bebas dari buah busuk, rusak, maupun benda asing.

Eksportir juga harus memiliki kebun durian atau bermitra dengan petani yang telah mendapat registrasi GAP dari Dinas Pertanian Provinsi, memiliki rumah kemas yang terdaftar di Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Bapanas, serta ditetapkan sebagai fasilitas ekspor atau IKT oleh Barantin.

Barantin akan melakukan pemeriksaan fasilitas produksi, pemrosesan, dan penyimpanan sebelum merekomendasikan perusahaan yang memenuhi syarat kepada GACC.

Produk hanya dapat diekspor ke China apabila perusahaan telah diregistrasi oleh GACC.

Drama menekankan bahwa titik kritis dalam ekspor durian beku adalah penerapan sanitasi higienis melalui SOP di IKT, guna memastikan produk terbebas dari cemaran kimia, biologi, maupun logam berat.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) Aditya Pradewo menyambut antusias peluang ekspor langsung ke China. Ia menilai pasar durian di negara tersebut mencapai 8 miliar dolar AS atau sekitar Rp128 triliun per tahun.

Dengan varietas unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung, ia memprediksi Indonesia bisa merebut 5–10 persen pangsa pasar, dengan potensi devisa Rp6,4 triliun hingga Rp12,8 triliun per tahun.

Aditya menambahkan, ekspor langsung ke China memangkas biaya logistik sekaligus memberikan keuntungan besar bagi petani dan eksportir, mengingat harga durian di China tercatat 5–7 kali lipat lebih tinggi dibandingkan harga lokal.

Sementara itu, salah satu pelaku usaha durian Muchlido Apriliast mengungkapkan sebelum adanya protokol ekspor durian beku, pengiriman ke China dilakukan melalui Thailand dengan biaya ekspedisi sekitar 8.000 dolar AS per kontainer.

Kini, dengan ekspor langsung, biaya hanya berkisar 10.000–11.000 dolar AS per kontainer, sehingga pelaku usaha dapat menghemat hingga 8.000 dolar AS per kontainer.

Baca juga: Barantin tegaskan biaya karantina tercantum di peraturan resmi

Baca juga: Indonesia ekspor perdana 48 ton durian beku ke China

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.