SEA Games pun menjadi bukan hanya soal medali, tetapi juga tentang manusia dan perjumpaan
Bangkok (ANTARA) - Selalu ada cerita di balik sebuah perjalanan. Tak jarang, drama ikut menyertainya. SEA Games 2025 Thailand menjadi salah satu panggung besar yang menyimpan banyak kisah.
Tak hanya tentang atlet dan medali, tetapi juga tentang mereka yang mencatat setiap detiknya.
Di balik perjuangan atlet mengharumkan nama bangsa dan negara, terdapat banyak tangan lain yang bekerja dalam senyap.
Jurnalis menjadi bagian penting dari setiap momen ketika Indonesia Raya berkumandang dan Merah Putih berkibar. Mereka hadir di pinggir arena, di lorong-lorong stadion, di ruang mixed zone yang sesak, hingga di kursi-kursi paling ujung tribun.
Selama berada di Thailand, begitu banyak cerita yang tertulis, tergambar, dan terekam. Ada yang lahir dari sorak kemenangan, ada pula yang muncul dari kegagalan, kelelahan, bahkan canda yang menyelamatkan suasana.
Atlet berkeringat di arena. Pelatih dan ofisial bergulat dengan strategi. Jurnalis juga bertarung dengan versinya sendiri.
Jurnalis setiap hari melawan waktu, jarak, dan stamina yang kerap terkuras tanpa ampun.
Tak jarang, jurnalis berubah menjadi “atlet dadakan". Berlari dari satu venue ke venue lain, menembus macet Bangkok, berpindah kota dengan jarak ratusan kilometer demi satu momen krusial.
Kadang datang tepat waktu, kadang harus menerima kenyataan pahit, terlambat beberapa menit dari momen emas.
Di situlah dinamika khas jurnalis muncul.
Ketika target emas gagal tercapai, suasana tak selalu muram. Alih-alih larut dalam kecewa, candaan kerap menjadi pelarian. Ada yang saling ejek ringan, ada pula yang pura-pura menyalahkan takdir.
"Aduh, gimana ya. Enggak ada emas lagi," celetuk Moch Mardiansyah Al Afghani, setengah bercanda, setengah pasrah. Kalimat itu disambut tawa yang terdengar dipaksakan, namun justru itulah penopangnya.
"Aman, besok masih ada cabang lain," sahut Nova Wahyudi, sambil menepuk bahu Dian, mencoba menjaga optimisme tetap menyala.
Ejekan itu bukan untuk menjatuhkan, melainkan cara sederhana menjaga kewarasan.
Di balik kalimat bercanda, ada rasa saling memahami. Semua sama-sama capek, semua sama-sama berharap, dan semua sama-sama ingin memberi yang terbaik.
Pewarta ANTARA datang ke SEA Games 2025 dengan komposisi yang jauh dari ideal. Empat orang dengan dua pewarta teks Aditya Ramadhan dan Muhammad Ramdan, satu pewarta video Moch Mardiansyah Al Afghani, dan satu pewarta foto Nova Wahyudi.
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.