Abby Galabby, artis yang "diplomat"

Abby Galabby, artis yang "diplomat"

Abby Galabby tampil di panggung saat menghibur para peserta Media Conference tentang kebijakan baru kepariwisataan di Osaka, Jepang, pada 19 November 2015. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa pejabat dari Kementerian Pariwisata Indonesia, pejabat KJRI Osaka, pengusaha perjalanan wisata dan wartawan Osaka. (ANTARA News/Bambang Purwanto)

Jakarta (ANTARA News) -  Artis Abby Gallaby  pandai menyanyi dan menari sekaligus mampu menjadi "diplomat" dalam "second track diplomacy" (diplomasi lini kedua).

Pada kesempatan promosi wisata oleh Kementerian Pariwisata Indonesia di Osaka, Jepang, pada 19 November 2015, Abby memperkenalkan Indonesia dengan membawakan lagu-lagu Indonesia seperti "Gethuk" dan "Cinta Indonesia" sambil menari.

"Selain melalui lagu dan tarian, saya juga memperkenalkan negeri tercinta ini dengan mengenakan baju batik atau kebaya di luar negeri," kata Abby yang juga ikut dalam misi kebudayaan Indonesia di Belanda beberapa waktu lalu.

Abby yang sudah mulai menyanyi sejak berusia empat tahun itu mengaku senang memperkenalkan budaya dan seni Indonesia saat dia berada di luar negeri.

"Saya melihat justru banyak anak-anak muda Indonesia saat ini terpengaruh oleh budaya dan seni dari luar negeri," kata Abby yang pernah belajar menyanyi dengan Pranajaya.

Menurut Abby yang belajar menari dari sanggar tari Namarina itu, dengan memperkenalkan Indonesia saat menyanyi dan menari dia bisa menjadi diri sendiri sekaligus dapat menghibur orang lain.

"Saya ingin mempromosikan Indonesia lebih banyak lagi antara lain melalui sendratari tentang Gatot Kaca dan Malinkundang dengan gaya modern," kata Abby yang juga atlet wushu itu.

"Saya juga pernah meraih medali perak dan emas lho. Saya ikut kejuaraan internasional mewakili Indonesia yang diselenggarakan di Kutai, Kalimantan Timur, pada 2010," kata Abby.

Penyanyi lajang yang pernah ikut acara Indonesia Mencari Bakat di sebuah program stasiun televisi swasta itu, memiliki kegiatan sehari-hari mengajar tari balet di sebuah sekolah balet di Jakarta.

"Selain tari balet dan musikal broadway, saya juga menari tarian daerah Indonesia seperti tari Saman dari Aceh dan tari Bali," kata penyanyi kelahiran Jakarta 25 tahun lalu itu.

Kementerian Pariwisata Indonesia mengadakan Konferensi Media pada 19 November, 2015, di New Otani Hotel, Osaka, Jepang, untuk memperkenalkan kebijakan baru tentang peningkatan jumlah pintu masuk keimigrasian bagi wisatawan Jepang, penghapusan Clearance Approval for Indonesian Territory (CAIT) yaitu persyaratan bagi perahu pesiar (yacht) Jepang untuk memasuki wilayah Indonesia melalui 18 pelabuhan, dan penghapusan Prinsip Cabotage yang memberi prioritas akses ke kapal pesiar (cruise) untuk berlabuh di Indonesia.

Kebijakan baru tersebut juga menyangkut bebas visa bagi wisatawan dari 90 negara, termasuk Jepang untuk kunjungan singkat (short visit). 

Pengenalan kebijakan baru tersebut diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan Jepang ke Indonesia. 

Pewarta: Bambang Purwanto
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar