Jakarta (ANTARA) - Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menyampaikan bahwa kematangan emosi menjadi kunci kesiapan seseorang sebagai orang tua dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

Novi menegaskan, kematangan emosional idealnya sudah terbentuk jauh sebelum seseorang menikah dan memiliki anak.

“Seseorang yang siap jadi orang tua itu harus mampu mengelola dan meregulasi emosinya dengan baik. Secara sosial, ia juga mampu berkomunikasi dalam berbagai situasi dan membangun relasi yang sehat,” kata Novi ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.

Baca juga: Tips kerja sama tim antarpasangan agar mengasuh anak tanpa kelelahan

Novi mengatakan, indikator psikologis seseorang siap menjadi orang tua dapat dilihat dari kematangan emosional, kognitif, dan sosial yang tecermin dalam perilaku sehari-hari.

Adapun kematangan emosional apabila seseorang memiliki kemampuan untuk mengelola respons emosinya secara stabil dan terukur.

Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi orang tua sangat berpengaruh terhadap risiko kekerasan pada anak, terutama pada usia 0–7 tahun.

Baca juga: Cara praktis orangtua & guru ajari anak akui salah dan minta maaf

Pada rentang usia tersebut, anak belajar secara bawah sadar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dari orang-orang terdekat, khususnya orang tua.

Novi menyebut proses tersebut dikenal sebagai teori "social learning", di mana anak belajar meniru perilaku orang terdekat secara tidak sadar.

“Anak belajar mengenal emosi dan cara mengelolanya dari orang tuanya. Jika orang tua mampu mengelola emosi dengan baik, anak akan meniru hal yang sama, begitu pula sebaliknya,” ujarnya.

Baca juga: Hilangnya sosok ayah berpengaruh pada mental anak

Selanjutnya secara kognitif, individu tersebut mampu berpikir seimbang antara rasional dan intuitif dalam mengambil keputusan serta mampu menghadapi persoalan secara kompleks.

Kemudian secara sosial, seseorang sudah mampu melakukan komunikasi dengan berbagai situasi dan kondisi sesuai konteks serta membangun relasi yang baik.

Lebih lanjut, ia menyebutkan tanda-tanda stres berat pada orang tua yang berpotensi membahayakan anak, antara lain munculnya agresivitas pasif seperti menarik diri, diam, dan memutus komunikasi, maupun agresivitas aktif berupa kekerasan verbal dan fisik.

Baca juga: Tips menerapkan "co-parenting" bagi pasangan cerai yang memiliki anak

Oleh karena itu, Novi menilai edukasi dan pendampingan parenting sangat penting dan sebaiknya dimulai sejak dini, termasuk melalui pendidikan emosi sosial di sekolah.

Selain itu, persiapan menjadi orang tua sebelum menikah serta pengenalan terhadap respons pasangan saat menghadapi tekanan juga dinilai penting sebagai langkah pencegahan kekerasan terhadap anak.

"Pendidikan menjadi orangtua sebelum menikah dengan melakukan cek pada perilaku pasangan atau calon pasangan, terutama ketika menghadapi situasi tidak biasa. Bagaimana reaksinya? Itu sangat penting," katanya.

Baca juga: Dokter anak sebut peran ayah komponen penting perkembangan anak

Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.