Total rumah rusak di Provinsi Sumatera Utara mencapai 28.708 unit, dengan 5.158 unit di antaranya masuk kategori rusak berat dan 1.068 unit dilaporkan hilang

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menyiapkan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir dan tanah longsor di Provinsi Sumatera Utara yang kehilangan tempat tinggal.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa pembangunan huntara menjadi bagian penting dalam penanganan pengungsi yang rumahnya mengalami kerusakan berat hingga hilang.

Data BNPB mencatat total rumah rusak di Provinsi Sumatera Utara mencapai 28.708 unit, dengan 5.158 unit di antaranya masuk kategori rusak berat dan 1.068 unit dilaporkan hilang atau hanyut terbawa banjir.

Kabupaten Langkat tercatat sebagai wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak, yakni 11.273 unit, disusul Kabupaten Tapanuli Tengah sebanyak 6.481 unit dan Kabupaten Tapanuli Selatan sebanyak 4.624 unit.

Baca juga: BNPB percepat pembangunan huntara di daerah terdampak bencana Sumatera

Sebagai langkah awal, menurut Abdul, pembangunan 102 unit huntara sudah dimulai di Kabupaten Tapanuli Utara sejak Sabtu (13/12) untuk menampung warga terdampak yang belum dapat kembali ke rumahnya.

Sementara di Kabupaten Tapanuli Selatan telah disepakati lokasi relokasi di lahan milik PTPN IV Kebun Batang Toru dan Kebun Hapesong untuk rencana pembangunan 488 unit huntara.

Abdul menyebutkan bahwa proses penanganan pengungsi dan penyediaan huntara dilakukan secara bertahap dengan melibatkan pemerintah daerah agar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sosial masyarakat setempat.

Dalam waktu bersamaan, BNPB juga memastikan penyaluran bantuan logistik dan memastikan pemulihan akses infrastruktur guna mendukung pemulihan aktivitas masyarakat terdampak.

Baca juga: Prabowo perintahkan hunian sementara di Sumatera segera rampung

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.