Yogyakarta rintis empat kecamatan inklusi

Yogyakarta (ANTARA News) - Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta merintis empat kecamatan inklusi yang akan diluncurkan bersamaan dengan puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional Kota Yogyakarta, Minggu (6/12).

"Rintisan kecamatan inklusi ini dimulai dengan pembentukan paguyuban keluarga dengan anak penyandang disabilitas," kata Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta Octo Noor Arafat di Yogyakarta, Rabu.

Keempat kecamatan yang ditetapkan menjadi rintisan kecamatan inklusi adalah Kecamatan Tegalrejo, Kecamatan Wirobrajan, Kecamatan Kotagede dan Kecamatan Gondokusuman.

Menurut dia, pembentukan paguyuban keluarga tersebut penting dilakukan karena masih banyak keluarga yang memiliki anak penyandang disabilitas yang malu dan justru menyembunyikan anak-anaknya.

"Jika dibentuk dalam sebuah paguyuban, maka keluarga-keluarga tersebut akan semakin menguatkan dan saling mendukung," katanya.

Ia berharap, rintisan kecamatan inklusi tersebut bisa diikuti oleh 10 kecamatan lain sehingga seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta menjadi kecamatan inklusi.

Pembentukan kecamatan inklusi juga menjadi upaya Pemerintah Kota Yogyakarta mewujudkan Yogyakarta sebagai Kota Inklusi.

Berdasarkan pendataan terakhir, jumlah penyandang disabilitas di Kota Yogyakarta tercatat sebanyak 2.344 orang, penyandang disabilitas yang berusia anak-anak tercatat 334 orang dan penyandang disabilitas yang memperoleh jaminan kesehatan khusus sebanyak 1.864 orang.

Selain membentuk kecamatan inklusi, upaya lain yang dilakukan pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada penyandang disabilitas yaitu membentuk Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas serta mengajukan rancangan peraturan daerah tentang disabilitas.

Rancangan peraturan daerah tentang disabilitas tersebut sudah masuk dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda) DPRD Kota Yogyakarta 2016 sehingga diharapkam bisa diselesaikan tahun depan.

"Selain mengatur tentang perlindungan kepada penyandang disabilitas, perda tersebut juga mengatur pemberdayaan untuk penyandang disabilitas," katanya.

Yogyakarta, lanjut dia, juga menyusun cetak biru indikator Kota Inklusi dengan melibatkan berbagai pihak. Hingga saat ini belum ada kota atau institusi apapun yang menetapkan indikator untuk kota inklusi.

Sementara itu, Direktur Sentra Advokasi Perlindungan Difabel dan Anak (SAPDA) Nurul Saadah Andriyani mengatakan, akses untuk penyandang disabilitas tidak hanya berupa akses terhadap fisik tetapi termasuk non fisik.

"Misalnya saja terkait pelayanan kesehatan selain akses masuk ke tempat pelayanan kesehatan itu sendiri termasuk partisipasi penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan," katanya.

Sementara itu, berbagai kegiatan yang akan diselenggarakan guna memperingati Hari Disabilitas Internasional di antaranya adalah membagikan stiker dan pin sebagai kampanye peduli penyandang disabilitas.

Kampanye akan dilakukan di pintu masuk kompleks Balai Kota Yogyakarta dan di sepanjang Jalan Malioboro pada Kamis (3/12) dan puncak peringatan pada Minggu (6/12) di halaman Balai Kota Yogyakarta.

"Pada tahun ini, Peringatan Hari Disabilitas Internasional akan digelar untuk tahun ke-23 dan Kota Yogyakarta baru akan menggelar peringatan untuk pertama kalinya," katanya.

Tempat wisata yang menjadi ikon Yogyakarta, Taman Pintar juga ikut berpartisipasi dalam memperingati Hari Disabilitas Internasional yaitu memberikan tiket masuk gratis untuk penyandang disabilitas yang masih berusia anak-anak khusus pada Kamis (3/12).

"Tidak ada kuota jumlah penyandang disabilitas. Mereka pun bisa mengakses wahana di Taman Pintar secara gratis kecuali wahana tertentu yang berstatus sharing dengan pihak ketiga seperti teater 4Dimensi dan Dino Adventure," kata Kepala Kantor Pengelola Taman Pintar Yunianto Dwi Sutono.

Ia memastikan, seluruh wahana yang ada di Taman Pintar bisa diakses oleh penyandang disabilitas termasuk wahana yang ada di lantai dua.

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar