Tenggelamnya KM Putri Sakinah di Labuan Bajo, seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah di sektor pariwisata, sebab kecelakaan tersebut kontra produktif bagi upaya pemerintah yang ingin mendulang sebanyak mungkin wisatawan manca negara (wisman).
Jakarta (ANTARA) - Sektor pariwisata sering digadang-gadang sebagai salah satu pilar ekonomi kreatif untuk mendulang cuan dan devisa.
Untuk menggapai itu, pemerintah melakukan berbagai rekayasa, salah satunya mengatur waktu libur Natal dan tahun baru yang diperpanjang, dan atau masyarakat diminta melakukan kerja dari semua tempat (WFA).
Masyarakat pun tampak enjoy dengan kebijakan itu, walau mungkin kantongnya sedang cekak. Sementara di sisi lain, pemerintah, pelaku pariwisata, dan masyarakat, sering terlena dengan aspek keamanan dan keselamatan di tempat pariwisata. Bahkan, kali ini menimpa tempat pariwisata super prioritas, yakni Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), berupa tenggelamnya KM Putri Sakinah, dengan merenggut korban empat orang meninggal dunia. Salah satu korban itu adalah pelatih sepak bola putri dari Spanyol Valencia, Vernando Martin dan tiga orang anaknya.
Jelas, ini kejadian yang amat ironis, bahkan tragis. Tragis, sebab Labuan Bajo adalah tempat pariwisata premium, tapi kurang didukung dengan sarana prasarana dan sumber daya manusia yang premium pula. Kalau di Labuan Bajo saja performanya seperti itu, bagaimana dengan potret pariwisata di tempat lain, yang levelnya non premium?
Lalu apa sebab musababnya, sehingga aspek keamanan dan keselamatan pariwisata di Indonesia masih terlihat buram?
Pertama, masih minimnya pengawasan terhadap infrastruktur kepariwisataan, misalnya jarang dikalibrasi secara rutin, atau saat menjelang momen libur panjang. Infrastruktur pariwisata yang ada, sejatinya kurang andal, dan kurang layak untuk dioperasionalkan.
Dalam kasus kecelakaan kapal Putri Sakinah di Labuan Bajo, disinyalir kapal tersebut hanyalah kapal rekondisi, yakni kapal nelayan yang hanya badannya yang di-upgrade menjadi kapal wisata. Memang, kata syahbandar pelabuhan Labuan Bajo, kapal yang tenggelam itu statusnya laik layar.
Tragisnya lagi, tenggelamnya kapal pariwisata di Labuan Bajo, bukan kali ini saja, tetapi tercatat sudah tujuh kali kejadian kecelakaan.
Baca juga: Gubernur NTT libatkan tokoh agama-adat mencari korban kapal tenggelam
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.