Memahami motif bukanlah upaya memaafkan, melainkan langkah untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.
Serang (ANTARA) - Kawasan Bukit Baja Sejahtera III, Kota Cilegon, pada siang hari pertengahan Desember 2025 dikejutkan dengan sebuah tragedi yang mengguncang nurani publik. Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, Muhamad Axle Harman Miller, ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya sendiri.
Luka tusuk di tubuh kecilnya menjadi penanda kekerasan ekstrem yang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meruntuhkan rasa aman sebuah keluarga.
Peristiwa ini segera menyedot perhatian luas, karena selain korban adalah anak di bawah umur, latar belakang keluarganya dikenal luas oleh publik.
Ayah korban merupakan pengusaha sekaligus Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera. Namun di balik sorotan itu, aparat penegak hukum berupaya mengurai lapisan-lapisan fakta untuk memahami apa yang sebenarnya mendorong terjadinya kejahatan ini.
Penyidikan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Banten dalam ungkap kasus di Mapolres Cilegon, Senin (5/1), mengarah pada satu nama, HA, pria berusia 31 tahun, operator produksi di sebuah perusahaan industri kimia di Cilegon.
HA bukan residivis, bukan pula bagian dari jaringan kejahatan terorganisasi. Dari luar, hidupnya tampak biasa, bekerja tetap sejak 2019, berkeluarga, dan tinggal di rumah kontrakan sederhana.
Namun di balik rutinitas itu, terdapat tekanan yang terus menumpuk, perlahan menggerogoti daya tahannya sebagai manusia.
Baca juga: Polisi sebut pembunuhan anak di Cilegon dipicu utang rugi aset kripto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.