Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks membutuhkan waktu yang panjang

Jakarta (ANTARA) - Dunia memperingati Hari Kanker Sedunia setiap 4 Februari sebagai ajakan global untuk meningkatkan kesadaran terhadap berbagai jenis kanker, termasuk kanker serviks; penyakit yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan Indonesia.

Berdasarkan data WHO, lebih dari 340.000 perempuan meninggal setiap tahun akibat kanker serviks, dengan sekitar 90% di antaranya terjadi di negara-negara berkembang.

Di Indonesia, laporan Globalcan 2022 menunjukkan terdapat 36.964 kasus baru dan lebih dari 20 ribu kematian per tahun akibat kanker serviks. Padahal, menurut Kementerian Kesehatan RI, kanker ini merupakan salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah dan disembuhkan apabila dideteksi dan ditangani secara dini.

Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan penyakit kanker serviks bisa dieliminasi dengan tata laksana dini terutama pada perempuan usia produktif 30-59 tahun yang sudah melakukan aktifitas seksual.

“Skrining untuk menemukan kasus lebih dini menjadi bagian penting untuk mencegah kanker naik ke level selanjutnya. Jika kasus bisa ditemukan lebih dini dan segera diobati, maka kematian dapat dihindari,” kata Siti Nadia melalui pesan singkat kepada ANTARA.

Meski termasuk jenis kanker yang dapat dicegah, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini membuat banyak pasien kanker serviks datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut. Ini karena, menurut dr Lisa Puspadewi Susanto, Spesialis kebidanan dan kandungan dari Rumah Sakit EMC Alam Sutra, banyak perempuan masih enggan menjalani pemeriksaan IVA atau Pap smear karena minimnya informasi dan rasa takut.

“Trennya, kalau tidak sakit ya tidak ke rumah sakit. Banyak perempuan enggan melakukan screening kanker serviks. Padahal screening perlu dilakukan, tidak menunggu ada gejala,” ujarnya.

Lisa Puspadewi menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan. Ketimpangan tersebut membuat deteksi dini kerap terlambat, terutama di wilayah luar Jawa atau daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas.

“Jadi memang di Indonesia ini sendiri permasalahan utamanya adalah SDM dan geografis. Sebagai negara kepulauan, persebaran dokter spesialis, alat-alat diagnostik, dan terapetiknya kurang merata,” kata dr Lisa

Selain faktor akses dan kesadaran, Lisa menyebut keterlibatan virus Human Papillomavirus (HPV) menjadi penyebab utama. Ia menjelaskan, perubahan perilaku seksual generasi muda juga turut mempengaruhi peningkatan risiko. Tingginya penyebaran HPV, membuat upaya pencegahan pun harus lebih agresif melalui vaksinasi dan edukasi terutama kepada kelompok usia produktif.

“Remaja sekarang banyak yang memulai aktivitas seksual di usia dini dan gonta-ganti pasangan. Ini sangat berpengaruh terhadap risiko kanker serviks,” ungkapnya.

Sebenarnya, perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks membutuhkan waktu yang panjang. Menurut penuturan dr Lisa, perjalanan itu membutuhkan 15-20 tahun, sehingga deteksi dini sangat mungkin dilakukan sebelum selnya berubah menjadi ganas.

“Karena prosesnya bertahap, skrining rutin seharusnya bisa mencegah sebagian besar kasus kanker serviks sebelum berkembang menjadi stadium berat,” kata Lisa.

Baca juga: "Jaga Bersama" gencarkan edukasi vaksin HPV cegah kanker serviks

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.