Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) terus mempercepat penanganan dampak bencana pada Jalur Nasional Lintas Tengah Aceh guna memastikan konektivitas antarwilayah tetap terjaga.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan menjaga konektivitas menjadi prioritas utama pemerintah dalam situasi darurat bencana, mengingat peran strategis jalan dan jembatan sebagai penggerak utama aktivitas masyarakat serta distribusi logistik.

“Konektivitas adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi bencana, yang terpenting adalah memastikan akses tetap terbuka agar mobilitas warga, bantuan kemanusiaan, dan distribusi logistik tidak terhenti,” ujar Dody dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, berbagai upaya pemulihan akses terus dilakukan secara intensif pada ruas-ruas strategis terdampak longsor dan kerusakan pada jembatan.

Baca juga: Kemen PU tuntaskan pemasangan Jembatan Bailey di Krueng Beutong, Aceh

Hingga 7 Januari 2026, sebagian besar ruas strategis di lintas tengah Aceh telah kembali terhubung dan fungsional, baik secara permanen maupun melalui penanganan darurat seperti pemasangan Jembatan Bailey dan pengalihan ke jalur alternatif.

Sejumlah ruas utama yang telah kembali terhubung antara lain Ruas Kota Bireuen–Batas Bireuen/Bener Meriah, Ruas Batas Aceh Tengah/Nagan Raya–Lhok Seumot–Jeuram, Ruas Genting Gerbang–Celala–Batas Aceh Tengah/Nagan Raya, dan Ruas Batas Aceh Tengah/Gayo Lues–Blangkejeren.

Selain itu Ruas Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane hingga Ruas Kota Kutacane–Batas Provinsi Sumatera Utara juga telah dapat dilalui. Percepatan penanganan ini difokuskan pada pembukaan kembali akses transportasi darat sebagai jalur utama mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.