Narasi perpindahan IKN tak boleh dibarengi dengan istilah tabula rasa, seolah-olah Kalimantan Timur adalah kanvas kosong yang siap dilukis oleh peradaban baru dari pusat.

Ibu Kota Nusantara (ANTARA) - Ada jejak kepahlawanan yang hampir saja tertutup, dan mesti disingkap kembali dari balik mega proyek Ibu Kota Nusantara di tanah Sepaku. Ia adalah Aji Galeng, penjaga Telake Balik yang membuktikan bahwa tanah itu tak pernah kosong dari peradaban.

Kalimantan adalah wilayah besar yang seakan-akan senyap dalam historiografi Indonesia. Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia, narasi sejarahnya sering kali tenggelam, tertimbun oleh dominasi histori Jawa-sentris yang begitu kental dalam kurikulum pendidikan nasional.

Publik akrab dengan Perang Diponegoro atau Perang Paderi, sedangkan epos perlawanan di belantara Borneo kerap dianggap sekadar riak kecil di pinggiran kolonialisme. Memang ada sejarah perlawanan Banjar yang digawangi Pangeran Antasari, tapi di tanah Kalimantan Timur, ceritera heroik lokal tak begitu kuat dilempar ke permukaan.

Padahal, seperti dicatat oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo, penulisan sejarah lokal adalah conditio sine qua non--syarat mutlak--untuk memahami mosaik sejarah nasional secara utuh. Tanpa itu, Indonesia adalah bangunan yang pincang.

Kekosongan itulah yang coba diisi oleh penulis Bambang Arwanto bersama Safardy Bora dalam buku “Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri Peletak Peradaban”. Buku ini bukan sekadar biografi tokoh lokal. Ia bak manifesto untuk melawan amnesia sejarah. Terutama di wilayah yang kini menjadi sorotan, Ibu Kota Nusantara (IKN).

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.