Solo (ANTARA) - Atlet para balap sepeda putri Indonesia Zulaika menjadikan keterbatasan penglihatan yang membuatnya sulit bersaing di bidang akademik sebagai sumber motivasi untuk berprestasi melalui olahraga, termasuk untuk menjalani debut di ASEAN Para Games (APG) Thailand 2025 pada 20-26 Januari.
Dia mengaku, meski baru pertama kali tampil di level internasional, namun ia bertekad kuat untuk memberikan hasil terbaik bagi Indonesia.
"Saya memilih jadi atlet karena sulit belajar akibat keterbatasan diri, makanya saya ingin sukses dan membalasnya lewat prestasi sebagai atlet," kata Zulaika usai berlatih di Velodrome Manahan, Solo, Jawa Tengah, Selasa.
Atlet berumur 16 tahun asal Temanggung itu menjadi salah satu wajah baru yang dibawa tim para balap sepeda Indonesia ke ajang multievent olahraga se-Asia Tenggara tersebut.
Zulaika menjelaskan, awalnya tidak memiliki minat untuk terjun ke dunia olahraga prestasi.
Namun, setelah mencoba latihan para balap sepeda, minat itu tumbuh seiring dengan dukungan pelatih dan keluarga yang terus memotivasinya untuk berkembang.
Dalam perjalanan karirnya, Zulaika telah menunjukkan potensi dengan meraih medali emas dalam nomor road race di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Solo.
Baca juga: Pelatih para balap sepeda yakin bisa rebut emas dari nomor andalan
Dia menambahkan, pencapaian tersebut menjadi modal penting untuk menatap persaingan di APG Thailand, walaupun dia menyadari level kompetisi akan jauh lebih tinggi.
Persiapan teknis yang dijalani bersama tim, tambah dia, lebih difokuskan untuk penguatan gerakan dan putaran kaki, serta membangun chemistry saat turun pada nomor tandem.
Selain aspek fisik, pembenahan mental juga menjadi perhatian, mengingat pengalaman internasional yang masih minim.
Dari sisi mental, Zulaika menyatakan sempat merasakan grogi pada awal persiapan. Tetapi, seiring waktu rasa percaya diri mulai terbentuk berkat latihan rutin dan pendampingan pelatih yang konsisten memberikan dukungan.
"Target paling realistis saya pulang membawa minimal medali perak, kalau perunggu juga tidak apa-apa," ujar siswa sekolah menengah atas (SMA) itu.
Penderita low vision itu menegaskan keikutsertaannya sebagai atlet juga didorong oleh keinginan membahagiakan orang tua.
Dia berharap prestasi olahraga dapat menjadi jalan untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih kesuksesan.
Baca juga: Hilman yakin rebut emas meski debutan dalam ASEAN Para Games 2025
Baca juga: Angkat berat jadikan APG 2025 sasaran antara untuk Asian Para Games
Pewarta: Donny Aditra
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.