Ekspor nonmigas Jatim turun akibat lemahnya konsumsi

Ekspor nonmigas Jatim turun akibat lemahnya konsumsi

ilustrasi Ekspor Nonmigas Jatim Meningkat Suasana Terminal Petikemas Surabaya, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/9). Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat kinerja ekspor nonmigas Jatim pada Agustus 2015 meningkat 33,4 persen dibandingkan kinerja ekspor pada Juli 2015. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru) ()

Penurunan kinerja ekspor nonmigas ini tidak berarti kinerja industri kita menurun, tetapi lebih disebabkan turunnya permintaan dari luar negeri. Terbukti, komoditas tembaga kita masih mengalami kenaikan,"
Surabaya (ANTARA News) - Realisasi ekspor nonmigas Jawa Timur pada November 2015 terkoreksi mengalami penurunan dari 1,358 miliar dolar Amerika pada bulan Oktober 2015, menjadi 1,183 miliar dolar Amerika pada November 2015 atau turun sebesar 12,91 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, M Sairi Hasbullah, Selasa mengatakan penurunan itu murni akibat melemahnya konsumsi atau daya beli masyarakat dunia, khususnya untuk pasar Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang.

"Penurunan kinerja ekspor nonmigas ini tidak berarti kinerja industri kita menurun, tetapi lebih disebabkan turunnya permintaan dari luar negeri. Terbukti, komoditas tembaga kita masih mengalami kenaikan," ucap Sairi di Surabaya.

Ia mengatakan, penurunan permintaan terjadi hampir di seluruh negara tujuan ekspor, mulai dari pasar ASEAN, Uni Eropa hingga negara-negara utama lain seperti permintaan dari pasar Amerika yang turun 10,76 persen dari 156,024 juta dolar pada Oktober 2015 menjadi 139,232 juta dolar pada November 2015.

"Untuk komoditas yang diekspor ke Amerika Serikat di antaranya adalah emas perhiasan dan permata, bahan kimia organik, kayu dan barang dari kayu, serta daging, ikan dan udang," katanya.

Selain Amerika Serikat, turunnya permintaan juga terjadi di pasar India yang mencapai 34,41 persen, Taiwan turun 73,24 persen, Australia turun 18,91 persen, Belanda turun 9,71 persen, Jerman turun 23,38 persen dan Inggris turun 20,06 persen.

"Penurunan di pasar Uni Eropa seperti Belanda, Inggris dan Jerman lebih banyak dipicu karena instabilitas negara-negara tersebut," ujarnya.

Sedangkan untuk pasar ASEAN, penurunan terjadi di Singapura yang mencapai 25,78 persen dan Thailand turun 11,95 persen.

Sementara itu, jika dilihat dari jenis komoditas yang diekspor penurunan terbesar adalah perhiasan dan permata yang mencapai 53,71 persen, yakni dari 217,434 juta dolar di Oktober 2015 menjadi 100,654 juta dolar pada November, yang disebabkan turunya permintaan dari pasar Amerika, Australia dan Korea Selatan.

Penurunan terbesar kedua, kata Sairi, terjadi pada komoditas ekspor bahan kimia organik yang mencapai 8,35 persen dari 67,303 juta dolar Amerika menjadi 58,147 juta dolar.

Sementara realisasi total dari Januari hingga November 2015 tercatat mengalami penurunan 7,40 persen, yakni dari 16,503 miliar dolar Amerka pada tahun 2014, menjadi 15,282 miliar dolar Amerika pada tahun 2015.

Pewarta: Abdul Malik Ibrahim
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Mentan lepas ekspor pertanian Jatim senilai Rp805,79 M

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar