Paris (ANTARA News) - Kepala perusahaan penerbangan Prancis Air France Frederic Gagey pada Minggu mengatakan bahwa ancaman bom, yang memaksa salah satu pesawat mereka mendarat darurat di Kenya, adalah peringatan palsu.

"Setelah dikaji, itu ternyata peringatan palsu," kata Gagey merujuk pada benda, yang ditemukan di toilet pesawat dalam penerbangan dari Mauritius ke Paris tersebut, lapor AFP.

"Semua keterangan, yang kami miliki hingga kini, menunjukkan bahwa benda tersebut tidak bisa menyebabkan ledakan, yang membahayakan pesawat itu, namun hanya terdiri atas campuran karton, serpihan kertas, dan alat pengatur waktu," katanya.

Awak pesawat memutuskan melakukan pendaratan darurat di Kenya setelah benda mencurigakan itu ditemukan. Penumpang diungsikan dengan menggunakan peluncur.

Prancis, yang menetapkan kesiagaan setelah serangan oleh kelompok bersenjata pada November, yang menewaskan 130 orang, adalah salah satu dari banyak negara, yang mengambil tindakan pencegahan keamanan ekstra.

Kelompok bersenjata ISIS yang mengaku bertanggungjawab atas serangan Paris itu mengatakan mereka juga bertanggungjawab atas jatuhnya jet Rusia pada Oktober, dengan menyelundupkan bom di ke dalam pesawat, yang kemudian menewaskan seluruh 224 orang dalam penerbangan tersebut.
(Uu.Y013/B002)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2015