Pustakawan tidak hanya menjadi pengelola koleksi, tetapi juga arsitek informasi yang membangun fondasi akses terbuka bagi masyarakat

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) bekerja sama dengan platform Neliti.com membangun sistem repositori untuk memperluas jangkauan perpustakaan digital di seluruh Indonesia.

Ketua Umum IPI Joko Santoso dalam penandatanganan kerja sama antara IPI dan Neliti di Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Selasa, menyampaikan kolaborasi strategis pada era digital merupakan hal mutlak yang mesti dilakukan dalam menghadapi tantangan digitalisasi pengetahuan.

“Pustakawan tidak hanya menjadi pengelola koleksi, tetapi juga arsitek informasi yang membangun fondasi akses terbuka bagi masyarakat. Pandemi COVID-19 juga memaksa perpustakaan untuk bergeser, yang semula karena pembatasan kegiatan di luar, maka untuk layanannya bisa lebih ke daring, nah sekarang layanan-layanan bersifat online itu jauh lebih banyak," ujar Joko.

Baca juga: Perpusnas: Seluruh layanan perpustakaan harus berbasis digital

Menurutnya, sebelum COVID-19 pertumbuhan konten bacaan digital hanya sekitar 10 persen dan setelah itu tumbuh pesat sebesar 35 persen untuk konten-konten yang berbasis digital.

"Seperti di Perpusnas, kalau saya mengambil contoh, layanan online kita itu jumlah penggunanya tiga kali lipat dari jumlah yang pengguna secara on site atau datang secara fisik. Ini menunjukkan ada pergeseran. Kemudian (dengan repositori digital) maka kemampuan kita untuk menjangkau masyarakat itu jauh lebih luas, itu akan lebih kuat kalau kita sudah bertransformasi ke dalam layanan digital," katanya.

Untuk mencapai target seluruh perpustakaan di Indonesia agar bertransformasi menjadi perpustakaan yang memiliki sistem repositori digital lebih baik, lanjutnya, maka butuh perubahan pola pikir dari pustakawan.

Baca juga: KPDI, Perpusnas paparkan transformasi perpustakaan lewat digitalisasi

"Jadi pustakawan yang selama ini mungkin bekerja secara clerical atau berulang, hal-hal yang sebetulnya teknis dan fisik sekarang harus bergeser kepada yang digital, sehingga bisa menjangkau lebih banyak lagi pengguna, terutama digital native kita untuk generasi Milenial, generasi Z, dan generasi Alpha," paparnya.

Sementara itu Pendiri sekaligus CEO Neliti Anton Lucanus memperkenalkan RepoBuilder sebagai solusi komprehensif pengelolaan repositori digital. Ia menjelaskan, melalui Neliti, sekolah atau universitas dapat membuat sebuah perpustakaan digital dalam waktu yang singkat, sekitar dua menit saja.

"Hanya dalam satu klik, mereka bisa mulai mengunggah artikel mereka. Saat artikel mereka diunggah, maka itu bisa tersedia bagi siapapun di Indonesia atau luar Indonesia untuk mengunduh bahan pelajaran dan penelitian yang mereka butuhkan. Jadi, tujuan kami itu untuk membangun 250 ribu perpustakaan online, dan menyebarluaskan sedikitnya 20 juta publikasi online," ujar dia.

Baca juga: Perpusnas utamakan penyediaan koleksi digital di tengah efisiensi

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.